A. Deskripsi Modul
Ada sebuah pertanyaan yang deceptively sederhana namun memiliki implikasi yang sangat dalam: mengapa perempuan yang tinggal di kabupaten yang berdampingan β dengan akses jalan yang sama, fasilitas kesehatan yang setara, dan iklim yang identik β dapat memiliki risiko kematian saat melahirkan yang berbeda hingga tiga kali lipat? Jawabannya hampir tidak pernah terletak pada biologi. Jawabannya terletak pada siapa mereka secara sosial β posisi mereka dalam struktur stratifikasi yang menentukan pendapatan, pendidikan, kekuasaan pengambilan keputusan, dan akses terhadap sumber daya yang melindungi kehidupan.
Stratifikasi sosial adalah pengaturan masyarakat ke dalam lapisan-lapisan hierarkis (strata) berdasarkan kepemilikan sumber daya yang dihargai secara sosial β kekayaan, kekuasaan, status, dan prestise. Ini bukan sekadar konsep akademis. Dalam konteks kesehatan reproduksi Indonesia, stratifikasi sosial adalah mekanisme yang paling fundamental dalam menjelaskan mengapa AKI terkonsentrasi di kelompok-kelompok tertentu dan mengapa program KIA sering tidak berhasil menjangkau mereka yang paling membutuhkan.
Fokus Modul: Modul ini membangun pemahaman mendalam tentang bagaimana dimensi-dimensi stratifikasi β kelas sosial, gender, etnis, dan interseksinya β beroperasi sebagai determinan kesehatan reproduksi yang konkret dan terukur. Lebih dari sekadar memahami bahwa ketidaksetaraan ada, modul ini membangun kemampuan untuk menganalisis bagaimana mekanisme ketidaksetaraan bekerja β sehingga intervensi dapat dirancang untuk memutus rantai mekanisme tersebut, bukan sekadar mengatasi gejalanya.
B. Capaian Pembelajaran Modul
Setelah menyelesaikan modul ini, peserta didik mampu:
- Menjelaskan konsep stratifikasi sosial dan dimensi-dimensinya (kelas, status, kekuasaan) dalam kerangka teori Weber dan Marx
- Menganalisis bagaimana kelas sosial, pendidikan, dan kemiskinan mempengaruhi kesehatan reproduksi melalui mekanisme yang spesifik dan teridentifikasi
- Menjelaskan konsep gender sebagai konstruksi sosial dan menganalisis bagaimana ketidaksetaraan gender mempengaruhi otonomi reproduktif dan akses pelayanan KIA
- Menerapkan konsep interseksionalitas untuk menganalisis layered vulnerability dalam konteks kematian ibu di Indonesia
- Mengidentifikasi implikasi stratifikasi sosial terhadap desain program dan kebijakan KIA yang berkeadilan (equity-oriented)
C. Materi Inti
C.1. Stratifikasi Sosial: Kerangka Konseptual
C.1.1. Definisi dan Komponen Dasar
Stratifikasi sosial adalah sistem hierarki yang relatif permanen di mana kelompok-kelompok dalam masyarakat dibedakan berdasarkan akses yang tidak setara terhadap sumber daya, penghargaan, dan kekuasaan.
Tiga komponen stratifikasi menurut Weber:
- Kelas (Class): Posisi dalam hubungan produksi ekonomi β kepemilikan properti, pendapatan, dan kondisi pasar tenaga kerja. Kelas adalah kategori ekonomi yang objektif, tidak selalu disadari oleh individu.
- Status (Status): Penghargaan sosial dan gaya hidup yang diasosiasikan dengan posisi tertentu. Status dapat berbeda dari kelas β seorang kyai di pedesaan mungkin secara ekonomi tidak kaya tetapi memiliki status sosial yang sangat tinggi, dan status ini memberinya cultural authority termasuk dalam domain kesehatan.
- Kekuasaan (Power): Kemampuan untuk mencapai tujuan seseorang bahkan ketika berhadapan dengan resistensi. Dalam konteks kesehatan reproduksi: siapa yang memiliki kekuasaan untuk memutuskan di mana seorang ibu bersalin, kapan ia mencari pertolongan medis, dan apakah ia menggunakan kontrasepsi.
C.1.2. Sistem Stratifikasi dalam Konteks Indonesia
Indonesia memiliki sistem stratifikasi yang kompleks dan berlapis, hasil dari perpaduan antara:
- Warisan feudal dan adat: Hierarki berbasis keturunan dan status adat masih berpengaruh di banyak komunitas β di Jawa, konsep priyayi vs. wong cilik; di Bali, sistem kasta; di komunitas-komunitas adat di luar Jawa, hierarki berdasarkan garis keturunan.
- Stratifikasi modern berbasis kelas: Urbanisasi, industrialisasi, dan ekspansi pendidikan membentuk kelas menengah baru yang lebih besar, tetapi ketimpangan ekonomi (Gini ratio Indonesia sekitar 0,38) tetap signifikan.
- Stratifikasi gender: Patriarki dalam berbagai bentuknya β dari yang halus (ekspektasi bahwa perempuan mengutamakan keluarga di atas karier) hingga yang eksplisit (kontrol laki-laki atas keputusan reproduktif istri) β tetap menjadi dimensi stratifikasi yang paling relevan untuk kesehatan ibu.
- Stratifikasi etnis dan geografis: 300+ kelompok etnis dengan akses yang sangat tidak setara terhadap pembangunan; dikomplikasikan oleh stratifikasi geografis antara Jawa-sentris dan wilayah terpencil.
C.2. Kelas Sosial, Kemiskinan, dan Kesehatan Reproduksi
C.2.1. Mekanisme Penghubung Kelas dan Kesehatan Ibu
Hubungan antara kelas sosial rendah dan risiko kematian ibu lebih tinggi bukan hubungan langsung β ia beroperasi melalui beberapa mekanisme yang dapat diidentifikasi:
Mekanisme 1: Kekurangan nutrisi dan kesehatan dasar
Kemiskinan membatasi akses terhadap nutrisi adekuat sebelum dan selama kehamilan. Anemia defisiensi besi β yang sangat umum pada perempuan hamil di Indonesia (estimasi prevalensi 37β48%) β jauh lebih tinggi pada kelompok termiskin. Anemia berat meningkatkan risiko perdarahan postpartum fatal secara signifikan. Rantai kausal dari kemiskinan β anemia β perdarahan postpartum β kematian ibu adalah salah satu mekanisme paling teridentifikasi dan paling dapat dicegah.
- Mekanisme 2: Akses terbatas terhadap informasi kesehatan β Kelas sosial rendah berkorelasi dengan pendidikan rendah, yang berkorelasi dengan literasi kesehatan rendah. Perempuan dengan literasi kesehatan rendah: kurang mampu mengenali tanda bahaya kehamilan, kurang mampu menavigasi sistem rujukan, dan lebih rentan terhadap informasi yang salah dari sumber informal.
- Mekanisme 3: Biaya langsung dan tidak langsung β Bahkan dengan JKN, akses ke layanan kesehatan tidak gratis sepenuhnya β biaya transportasi, biaya akomodasi keluarga yang menemani, biaya informal, dan biaya opportunity (kehilangan pendapatan saat mencari pertolongan) menjadi hambatan nyata bagi rumah tangga miskin.
- Mekanisme 4: Decision-making power yang terbatas β Perempuan dalam rumah tangga miskin sering memiliki otonomi ekonomi yang sangat terbatas β ketergantungan pada suami atau keluarga untuk keputusan keuangan berarti ketergantungan yang sama untuk keputusan mencari pertolongan medis.
- Mekanisme 5: Kualitas pelayanan yang tidak setara β Penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa orang miskin tidak hanya menerima lebih sedikit pelayanan kesehatan tetapi juga pelayanan yang kualitasnya lebih rendah β patient-provider interaction yang lebih singkat, lebih sedikit penjelasan, dan lebih rentan terhadap disrespect and abuse di fasilitas kesehatan.
C.2.2. Kemiskinan Multidimensi dan Kesehatan Ibu
Konsep kemiskinan yang relevan untuk kesehatan ibu bukan sekadar kemiskinan pendapatan (penghasilan di bawah garis kemiskinan) tetapi kemiskinan multidimensi yang mencakup:
- Kekurangan akses terhadap layanan kesehatan
- Kekurangan akses terhadap pendidikan
- Kekurangan standar hidup (air bersih, sanitasi, perumahan)
- Kekurangan keamanan dari kekerasan
- Kekurangan pemberdayaan (kemampuan berpartisipasi dalam keputusan yang mempengaruhi kehidupan)
Indeks Kemiskinan Multidimensi (MPI) yang dikembangkan UNDP dan Oxford lebih komprehensif dalam menangkap deprivasi yang relevan untuk kesehatan reproduksi dibandingkan ukuran pendapatan semata.
C.2.3. Perangkap Kemiskinan dan Kesehatan Ibu
Kematian ibu tidak hanya merupakan tragedi individual β ia memiliki dampak ekonomi yang dramatis terhadap keluarga: anak-anak yang ditinggalkan memiliki risiko kemiskinan, putus sekolah, dan kesehatan buruk yang jauh lebih tinggi. Ini adalah dimensi sosial-ekonomi kematian ibu yang sering diabaikan dalam analisis berbasis fasilitas.
C.3. Gender sebagai Determinan Kesehatan Reproduksi
C.3.1. Membedakan Seks dan Gender
Seks adalah karakteristik biologis (kromosom, anatomi, hormonal) yang pada umumnya dikategorikan sebagai laki-laki, perempuan, atau interseks.
Gender adalah konstruksi sosial β ekspektasi, peran, norma, dan identitas yang masyarakat berikan kepada kategori seks. Gender bervariasi lintas budaya dan berubah sepanjang sejarah. Yang penting untuk kesehatan reproduksi: gender bukan sekadar deskripsi perbedaan, tetapi sistem hierarki yang memberikan kekuasaan lebih kepada laki-laki dan membatasi otonomi perempuan.
C.3.2. Dimensi Ketidaksetaraan Gender yang Relevan untuk Kesehatan Ibu
- a. Otonomi pengambilan keputusan: Di banyak komunitas Indonesia, keputusan untuk mencari pertolongan medis β termasuk dalam situasi darurat obstetri β tidak dibuat oleh perempuan sendiri tetapi oleh suami, mertua, atau tokoh keluarga laki-laki. Studi di Jawa Tengah menunjukkan bahwa dalam 60β70% kasus, keputusan merujuk ibu hamil ke RS melibatkan minimal satu "gatekeeper" laki-laki yang harus diyakinkan terlebih dahulu.
- b. Otonomi ekonomi: Perempuan yang tidak memiliki penghasilan sendiri dan tidak memiliki akses langsung ke uang keluarga tidak dapat membayar transportasi ke fasilitas kesehatan tanpa izin suami β bahkan dalam situasi darurat. Ini adalah hambatan struktural, bukan hambatan individual.
- c. Mobilitas fisik: Norma gender di beberapa komunitas membatasi mobilitas perempuan β terutama perempuan hamil β untuk bepergian tanpa pendamping laki-laki. Ini bukan sekadar preferensi budaya; ini adalah pembatasan struktural yang memiliki konsekuensi fatal ketika darurat obstetri terjadi.
- d. Beban kerja reproduktif: Perempuan secara tidak proporsional menanggung beban kerja perawatan (care work) β memasak, membersihkan, mengasuh anak, merawat anggota keluarga sakit β yang sering tidak diakui secara ekonomi maupun sosial. Beban ini membuat perempuan kurang memiliki waktu untuk ANC, lebih kelelahan selama kehamilan, dan lebih rentan mengabaikan tanda bahaya.
- e. Kekerasan berbasis gender: Kekerasan dalam rumah tangga selama kehamilan β yang prevalensinya diestimasi 5β15% di Indonesia β dikaitkan dengan risiko persalinan prematur, BBLR, dan kematian ibu. Ini adalah jalur langsung dari ketidaksetaraan gender ke morbiditas-mortalitas ibu yang sering tidak teridentifikasi dalam rekam medis.
C.3.3. Gender dan Interaksi Pasien-Provider
Ketidaksetaraan gender tidak hanya beroperasi di tingkat komunitas β ia juga hadir dalam ruang konsultasi dan ruang bersalin:
Paternalism medis: Tenaga kesehatan yang membuat keputusan untuk pasien tanpa melibatkan pasien dalam proses pengambilan keputusan β sering kali dengan asumsi bahwa pasien (terutama perempuan miskin berpendidikan rendah) "tidak akan mengerti" atau "tidak perlu tahu."
Disrespect and abuse: Studi global dan di Indonesia mengidentifikasi pola perlakuan tidak hormat dan pelecehan terhadap perempuan selama persalinan di fasilitas kesehatan β dari verbal (membentak, meremehkan) hingga fisik (prosedur tanpa consent). Ini adalah manifestasi ketidaksetaraan kekuasaan dalam interaksi pasien-provider yang berdampak langsung terhadap kepercayaan dan penggunaan fasilitas kesehatan.
Gender gap dalam profesi kesehatan: Paradoks di mana kebidanan didominasi perempuan tetapi keputusan kebijakan dan manajerial dalam sistem kesehatan masih sangat didominasi laki-laki β menciptakan disconnect antara perspektif yang dibutuhkan untuk kebijakan yang sensitif gender dan perspektif yang aktual mendominasi pengambilan keputusan.
C.4. Etnis, Identitas Budaya, dan Kesehatan Reproduksi
C.4.1. Etnis sebagai Kategori Sosial
Etnis bukan kategori biologis yang statis β ia adalah identitas sosial yang dikonstruksi melalui sejarah, budaya bersama, bahasa, dan sering kali hubungan dengan wilayah tertentu. Dalam konteks kesehatan, etnis relevan bukan karena perbedaan biologis antar kelompok etnis tetapi karena:
- Perbedaan pengalaman historis (termasuk sejarah marginalisasi dan diskriminasi)
- Perbedaan praktik budaya terkait kehamilan dan persalinan
- Perbedaan akses terhadap sumber daya pembangunan
- Hambatan bahasa dalam interaksi dengan sistem kesehatan formal
- Tingkat kepercayaan (trust) terhadap institusi negara yang berbeda
C.4.2. Minoritas Etnis dan Kesehatan Ibu di Indonesia
Komunitas adat dan etnis minoritas di Indonesia menghadapi hambatan berlapis:
- Hambatan geografis: Komunitas adat sering tinggal di wilayah terpencil dengan infrastruktur yang paling minim β bukan kebetulan, tetapi konsekuensi dari sejarah pembangunan yang tidak merata.
- Hambatan bahasa: Bidan dari luar komunitas yang tidak berbicara bahasa lokal tidak dapat membangun hubungan terapeutik yang efektif. Penjelasan tentang tanda bahaya atau proses rujukan tidak tersampaikan dengan jelas.
- Hambatan kepercayaan institusional: Komunitas yang secara historis mengalami marginalisasi dan eksploitasi oleh negara atau korporasi sering memiliki tingkat kepercayaan yang rendah terhadap institusi formal, termasuk fasilitas kesehatan pemerintah.
- Hambatan budaya-praktik: Sistem medis adat yang kuat, peran dukun bayi yang berakar dalam, dan kepercayaan tentang kehamilan/persalinan yang berbeda dari sistem biomedis β semua ini tidak dapat diabaikan atau dilawan frontal tanpa mengorbankan kepercayaan komunitas.
C.5. Interseksionalitas: Memahami Kerentanan Berlapis
C.5.1. Konsep Interseksionalitas
Interseksionalitas (Crenshaw, 1989) adalah kerangka analitis yang menyatakan bahwa kategori-kategori sosial seperti gender, kelas, ras/etnis, usia, dan disabilitas tidak beroperasi secara independen satu sama lain β mereka berinteraksi dan saling membentuk untuk menciptakan pengalaman ketidaksetaraan yang unik dan berlapis.
Mengapa interseksionalitas penting?
Bayangkan tiga perempuan yang semuanya tinggal di Kabupaten yang sama:
- Perempuan A: kelas menengah atas, berpendidikan tinggi, etnis dominan, tinggal di kota kabupaten
- Perempuan B: miskin, pendidikan SD, etnis minoritas, tinggal di desa terpencil
- Perempuan C: miskin, pendidikan SD, etnis minoritas, tinggal di desa terpencil, dengan suami yang controling dan riwayat KDRT
Analisis berbasis satu dimensi (hanya kelas, atau hanya etnis) tidak dapat menangkap perbedaan fundamental dalam kerentanan ketiga perempuan ini. Perempuan C menghadapi kombinasi kerentanan yang tidak sekadar "lebih dari" Perempuan B β ia menghadapi jenis kerentanan yang berbeda secara kualitatif, karena KDRT + isolasi + kemiskinan + etnis minoritas menciptakan hambatan yang saling memperkuat.
C.5.2. Matriks Kerentanan dalam Kesehatan Ibu Indonesia
Berdasarkan bukti yang tersedia, dapat diidentifikasi matriks kerentanan untuk kematian ibu di Indonesia:
| DIMENSI KERENTANAN | MANIFESTASI KONKRET dalam Risiko Kematian Ibu |
|---|---|
| Kelas sosial rendah | Anemia, malnutrisi, ketidakmampuan membayar transportasi darurat |
| Pendidikan rendah | Gagal mengenali tanda bahaya, literasi kesehatan rendah |
| Gender (patriarki) | Decision-making power terbatas, mobilitas terbatas, KDRT |
| Etnis minoritas | Hambatan bahasa, kepercayaan rendah pada fasilitas formal, praktik adat yang mungkin berbeda |
| Geografi terpencil | Akses fisik ke fasilitas, waktu tempuh yang fatal |
| Usia ekstrem | <18 tahun: organ reproduksi belum matang, otonomi sangat rendah >35 tahun: risiko obstetri lebih tinggi |
| Paritas tinggi | Kelelahan kumulatif, underestimasi risiko ("sudah sering lahir normal") |
Perempuan yang berada di multiple kategori kerentanan sekaligus tidak menghadapi risiko yang sekadar dijumlahkan β mereka menghadapi risiko yang dilipatgandakan melalui interaksi antar faktor.
C.5.3. Implikasi Interseksionalitas untuk Program KIA
Program KIA yang tidak sensitif terhadap interseksionalitas cenderung:
- Menjangkau perempuan yang relatif lebih mudah dijangkau (yang tinggal lebih dekat ke fasilitas, yang suaminya lebih kooperatif, yang lebih terdidik)
- Meninggalkan perempuan yang paling rentan karena pendekatan "satu ukuran untuk semua" tidak relevan untuk realitas hidup mereka
- Mengukur keberhasilan berdasarkan agregat (cakupan ANC nasional meningkat) yang menyembunyikan disparitas yang memburuk di kelompok yang paling rentan
Program yang sensitif interseksionalitas secara aktif mengidentifikasi siapa yang tidak dijangkau dan mengapa, kemudian merancang pendekatan yang berbeda untuk kelompok yang berbeda.
C.6. Stratifikasi Sosial dan Kualitas Pelayanan: Dimensi yang Sering Diabaikan
Diskusi tentang ketidaksetaraan dalam kesehatan reproduksi sering berfokus pada akses β siapa yang dapat mencapai fasilitas. Tetapi bahkan ketika perempuan dari kelompok yang paling rentan berhasil mencapai fasilitas, mereka sering menerima kualitas pelayanan yang lebih rendah.
C.6.1. Differential Treatment by Social Class
Penelitian di berbagai negara termasuk Indonesia mendokumentasikan pola di mana pasien dari kelas sosial lebih rendah:
- Mendapat waktu konsultasi yang lebih singkat
- Menerima lebih sedikit informasi tentang kondisi dan pilihan pengobatan
- Lebih jarang diberi kesempatan untuk bertanya
- Lebih sering mengalami disrespect and abuse verbal
- Lebih jarang menerima informed consent yang bermakna sebelum prosedur
C.6.2. Structural Violence
Paul Farmer (2004) memperkenalkan konsep structural violence β kekerasan yang tertanam dalam struktur sosial dan yang secara sistematis membahayakan kelompok-kelompok yang sudah rentan. Berbeda dari kekerasan langsung (seseorang memukul orang lain), kekerasan struktural bekerja melalui mekanisme yang tidak personal dan sering tidak terlihat: kemiskinan yang mencegah perempuan membeli obat, jalan yang tidak ada yang mencegah ambulans mencapai desa, norma yang mencegah perempuan membuat keputusan sendiri.
Implikasi: Kematian ibu di daerah terpencil Indonesia, dalam perspektif ini, bukan sekadar "kecelakaan" atau "nasib" β ia adalah konsekuensi yang dapat diprediksi dari kekerasan struktural yang telah berlangsung lama.
D. Pertanyaan Diskusi (Thread Dosen β Minggu 2)
Pertanyaan 1:
Data menunjukkan bahwa AKI di Papua sekitar 700β800 per 100.000 kelahiran hidup β hampir sepuluh kali lipat rata-rata nasional. Seorang pejabat Kemenkes mengklaim bahwa ini terutama disebabkan oleh "kurangnya tenaga kesehatan dan fasilitas" dan solusinya adalah "menambah bidan PTT dan membangun Puskesmas baru." Dengan menggunakan kerangka stratifikasi sosial, interseksionalitas, dan konsep structural violence, evaluasi apakah diagnosis dan solusi yang ditawarkan pejabat tersebut memadai. Identifikasi setidaknya tiga dimensi ketidaksetaraan yang tidak ditangani oleh pendekatan berbasis fasilitas, dan proposalkan pendekatan tambahan yang lebih komprehensif.
Pertanyaan 2:
Dalam sebuah studi kualitatif di Kabupaten Lombok Timur, peneliti menemukan bahwa 40% ibu hamil yang mengalami tanda bahaya preeklampsia tidak segera mencari pertolongan medis. Ketika diwawancarai, jawaban yang paling sering muncul adalah: "Menunggu izin suami," "Tidak ada uang untuk ongkos," dan "Takut dimarahi bidan karena belum bayar iuran BPJS." Analisis ketiga hambatan ini menggunakan konsep-konsep dari Modul 2: hambatan pertama menggunakan kerangka gender, hambatan kedua menggunakan kerangka kelas sosial dan kemiskinan, dan hambatan ketiga menggunakan konsep structural violence atau kualitas pelayanan berbasis kelas. Untuk setiap hambatan, identifikasi intervensi yang paling tepat di level yang relevan (individu, fasilitas, sistem, atau kebijakan).
E. Rangkuman
- Stratifikasi sosial β pengaturan masyarakat ke dalam hierarki berdasarkan kelas, status, dan kekuasaan β adalah determinan fundamental distribusi risiko kematian ibu; hubungan ini beroperasi melalui mekanisme yang teridentifikasi: nutrisi, akses informasi, biaya, otonomi pengambilan keputusan, dan kualitas pelayanan yang diterima
- Kemiskinan mempengaruhi kesehatan ibu tidak hanya melalui keterbatasan ekonomi langsung tetapi melalui kemiskinan multidimensi yang mencakup deprivasi pendidikan, perumahan, keamanan, dan pemberdayaan; hubungan kemiskinan-kesehatan bersifat dua arah β kematian ibu memperburuk kemiskinan keluarga yang ditinggalkan
- Gender sebagai sistem hierarki sosial β bukan sekadar perbedaan biologis β membatasi otonomi reproduktif perempuan melalui pembatasan pengambilan keputusan, mobilitas, otonomi ekonomi, dan beban kerja perawatan yang tidak proporsional; ketidaksetaraan gender juga hadir dalam interaksi pasien-provider melalui paternalism dan disrespect
- Interseksionalitas menunjukkan bahwa gender, kelas, etnis, geografi, dan usia tidak beroperasi secara independen tetapi saling berinteraksi untuk menciptakan kerentanan berlapis yang bersifat kualitatif berbeda, bukan sekadar kuantitatif lebih besar β implikasinya adalah bahwa program KIA harus dirancang untuk menjangkau kelompok yang paling rentan secara aktif dan diferensial
- Structural violence menjelaskan bagaimana kematian ibu di kelompok termiskin bukan nasib atau kecelakaan tetapi konsekuensi yang dapat diprediksi dari ketidaksetaraan struktural yang terakumulasi β pemahaman ini menggeser tanggung jawab dari individu ke sistem dan struktur sosial yang harus diubah
F. Referensi
- Weber M. Economy and Society. (Roth G, Wittich C, eds). Berkeley: University of California Press; 1978.
- Crenshaw K. Mapping the margins: intersectionality, identity politics, and violence against women of color. Stanford Law Review. 1991;43(6):1241-1299.
DOI: https://doi.org/10.2307/1229039 - Farmer P. Pathologies of Power: Health, Human Rights, and the New War on the Poor. Berkeley: University of California Press; 2004.
URL: https://www.ucpress.edu/book/9780520243262 - Marmot M. The Status Syndrome: How Social Standing Affects Our Health and Longevity. New York: Times Books; 2004.
- Sen G, Γstlin P (eds). Gender Equity in Health: The Shifting Frontiers of Evidence and Action. New York: Routledge; 2010.
- Bohren MA, Vogel JP, Hunter EC, et al. The mistreatment of women during childbirth in health facilities globally: a mixed-methods systematic review. PLOS Medicine. 2015;12(6):e1001847.
DOI: https://doi.org/10.1371/journal.pmed.1001847 - UNDP. Human Development Report 2023/24: Breaking the Gridlock. New York: UNDP; 2024.
URL: https://hdr.undp.org - Alkire S, Foster J. Counting and multidimensional poverty measurement. Journal of Public Economics. 2011;95(7-8):476-487.
DOI: https://doi.org/10.1016/j.jpubeco.2010.11.006 - Bishanga DR, Makuwani A, Mugerwa Y, et al. Factors associated with institutional delivery: findings from a cross-sectional study in Tanzania. PLOS ONE. 2018;13(3):e0194776.
DOI: https://doi.org/10.1371/journal.pone.0194776 - Badan Pusat Statistik. Profil Kemiskinan di Indonesia Maret 2023. Jakarta: BPS; 2023.
URL: https://www.bps.go.id
π TUGAS PERSONAL β MINGGU 2
Mata Kuliah: Sosiologi Kesehatan & Antropologi Medis
π PETUNJUK PENGERJAAN
- Tugas ini adalah esai analitis individual β bukan ringkasan modul, bukan daftar poin, tetapi argumen yang dikembangkan secara kohesif
- Anda diminta untuk mengaplikasikan konsep dari Modul 1 dan 2 pada konteks spesifik yang diberikan dalam skenario
- Gunakan konsep-konsep sosiologis secara eksplisit β sebutkan nama konsep, jelaskan maknanya, lalu terapkan pada kasus
- Tugas ini bersifat reflektif-analitis: tidak ada jawaban "benar" yang tunggal, tetapi ada argumen yang lebih kuat dan lebih lemah berdasarkan penggunaan konsep dan bukti
- Hindari generalisasi yang tidak didukung β setiap klaim analitis harus diikat pada konteks kasus atau bukti referensi
Kecamatan Watunohu, Kabupaten Konawe Kepulauan, Sulawesi Tenggara, terdiri dari dua desa yang berdampingan dan dilayani oleh satu Puskesmas yang sama: Desa Tanjung Jati dan Desa Pondolea.
Secara geografis, kedua desa hampir identik β jarak ke Puskesmas sama (3 km), jalan desa dengan kondisi yang serupa, dan tidak ada perbedaan infrastruktur yang signifikan. Jumlah penduduk sebanding: Tanjung Jati 1.200 jiwa, Pondolea 1.100 jiwa.
Namun dalam 5 tahun terakhir, terdapat perbedaan yang mencolok dalam data KIA:
| Indikator | Tanjung Jati | Pondolea |
|---|---|---|
| Kematian ibu (5 tahun) | 1 | 5 |
| Cakupan ANC K4 | 87% | 52% |
| Persalinan di fasilitas | 79% | 41% |
| Cakupan KB aktif | 68% | 29% |
| Pernikahan dini (<18 th) | 8% | 34% |
| Rata-rata lama sekolah (perempuan) | 9,2 tahun | 5,8 tahun |
| Perempuan dengan penghasilan sendiri | 44% | 12% |
| Bahasa utama di rumah | Indonesia + Tolaki | Bajo (98%) |
Tentang Pondolea: "Di Pondolea, sulit sekali. Ibu-ibu jarang datang sendiri β harus ditemani suami atau mertua. Kalau suaminya sedang melaut, tidak ada yang bisa memutuskan. Bahasa juga jadi masalah β saya tidak bisa bahasa Bajo, mereka banyak yang tidak fasih bahasa Indonesia. Beberapa kali saya sudah jelaskan tanda bahaya, tapi sepertinya tidak sampai. Ada juga beberapa kali ibu yang sudah dalam kondisi serius baru dibawa karena 'menunggu musim melaut pulang.' Dukun bayi mereka juga sangat dipercaya β kalau dukun bilang tidak perlu ke Puskesmas, ya tidak datang."
Tentang Tanjung Jati: "Tanjung Jati lebih mudah. Ibu-ibu lebih aktif, sering datang sendiri untuk periksa. Ada kelompok ibu hamil yang dibentuk bidan desa, dan mereka saling mengingatkan. Beberapa ibu yang sudah bersekolah juga jadi 'jembatan' β mereka membantu saya menjelaskan ke tetangga yang kurang paham."
β PERTANYAAN
Pertanyaan 1 β Analisis Stratifikasi Sosial (40%)
Menggunakan minimal tiga konsep dari Modul 1 dan/atau Modul 2 (pilih dari: sick role, determinan sosial kesehatan, kelas sosial, gender sebagai konstruksi sosial, otonomi reproduktif, social capital, structural violence, interseksionalitas, atau health-seeking behavior), analisislah mengapa Pondolea memiliki data KIA yang jauh lebih buruk dari Tanjung Jati meskipun akses geografis ke fasilitas kesehatan identik.
Untuk setiap konsep yang Anda gunakan: (1) Jelaskan konsep tersebut secara singkat (1β2 kalimat), (2) Tunjukkan bagaimana konsep tersebut bermanifestasi secara konkret dalam data atau informasi yang tersedia tentang Pondolea, (3) Jelaskan mekanisme bagaimana faktor ini berkontribusi pada outcome KIA yang lebih buruk.
Pertanyaan 2 β Interseksionalitas dan Kerentanan Berlapis (30%)
Berdasarkan data yang tersedia, buatlah profil layered vulnerability seorang ibu hamil "tipikal" di Pondolea β yaitu perempuan yang berada di titik persimpangan multiple kerentanan secara bersamaan. Gunakan kerangka interseksionalitas untuk menggambarkan bagaimana dimensi-dimensi kerentanannya (gender, kelas, etnis/bahasa, usia pernikahan dini, dll.) saling berinteraksi dan memperkuat satu sama lain β bukan sekadar dijumlahkan.
Bandingkan secara singkat dengan profil ibu hamil "tipikal" di Tanjung Jati untuk mengilustrasikan perbedaan kualitatif dalam kerentanan.
Pertanyaan 3 β Implikasi untuk Program KIA (20%)
Berdasarkan analisis Anda di Pertanyaan 1 dan 2, identifikasi dua intervensi spesifik yang paling strategis untuk Pondolea. Untuk setiap intervensi: (1) Jelaskan secara spesifik apa yang diintervensi (bukan sekadar "tingkatkan ANC" tetapi mekanisme sosial spesifik apa yang ditargetkan), (2) Jelaskan mengapa intervensi ini relevan berdasarkan analisis sosiologis Anda, (3) Identifikasi satu tantangan implementasi yang perlu diantisipasi.
Pertanyaan 4 β Refleksi Kritis (10%)
Dalam tidak lebih dari 150 kata: Jika Anda adalah konsultan Obginsos yang pertama kali mengunjungi Puskesmas Watunohu dan melihat data ini, apa satu perubahan dalam cara berpikir Anda tentang kematian ibu yang paling mendasar yang dituntut oleh analisis sosiologis ini β dibandingkan dengan cara berpikir berbasis klinis-biomedis yang selama ini dominan?
π RUBRIK PENILAIAN
| Komponen | Kriteria Utama | Bobot |
|---|---|---|
| Pertanyaan 1 | Ketepatan penggunaan β₯3 konsep; kejelasan mekanisme; keterikatan pada data kasus | 40% |
| Pertanyaan 2 | Kualitas analisis interseksional (interaksi, bukan penjumlahan); kedalaman profil kerentanan | 30% |
| Pertanyaan 3 | Spesifisitas intervensi; relevansi dengan analisis sosiologis; antisipasi tantangan | 20% |
| Pertanyaan 4 | Kedalaman refleksi; keberanian mengidentifikasi perubahan paradigmatik yang sesungguhnya | 10% |
π PANDUAN REFERENSI MINIMAL
- Marmot M, Wilkinson R (eds). Social Determinants of Health. 2nd ed. Oxford University Press; 2006.
- Crenshaw K. Mapping the margins. Stanford Law Review. 1991;43(6):1241-1299.
- Thaddeus S, Maine D. Too far to walk. Soc Sci Med. 1994;38(8):1091-1110.
- Farmer P. Pathologies of Power. Berkeley: University of California Press; 2004.
- Bohren MA, et al. Mistreatment of women during childbirth. PLOS Medicine. 2015;12(6):e1001847.