A. Deskripsi Modul
Pada September 2015, 193 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa secara bulat mengadopsi Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan β sebuah komitmen ambisius yang menempatkan kesehatan, kesetaraan gender, dan pengurangan kemiskinan sebagai prioritas global yang saling terkait. Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) bukan hanya pengganti MDGs β ia adalah transformasi paradigmatik yang mengakui bahwa kesehatan tidak dapat dicapai secara sustain tanpa mengatasi ketidaksetaraan, tanpa melibatkan semua lapisan masyarakat, dan tanpa sistem global yang lebih adil.
Bagi konsultan Obginsos yang bekerja di kabupaten terpencil Indonesia, relevansi SDGs mungkin tampak abstrak. Tetapi setiap target SDG3 (Good Health and Well-Being) dan SDG5 (Gender Equality) diterjemahkan ke dalam kebijakan nasional yang mempengaruhi anggaran, prioritas program, dan standar pelayanan yang menjadi kerangka kerja sehari-hari. Memahami arsitektur global ini bukan kemewahan akademis β ia adalah literasi yang diperlukan untuk bernavigasi dalam sistem yang semakin terhubung antara level global, nasional, dan lokal.
π― Fokus Modul: Modul penutup ini membangun sintesis dari seluruh perjalanan Mata Kuliah Sosiologi Kesehatan dan Antropologi Medis: bagaimana semua konsep yang telah dipelajari β determinan sosial, stratifikasi, antropologi medis, perilaku kesehatan, sistem kesehatan, kebijakan, etnografi, HAM, dan KBG β bertemu dalam arena kesehatan global dan membentuk agenda masa depan kesehatan reproduksi. Lebih dari itu, modul ini mengajak refleksi tentang peran konsultan Obginsos sebagai aktor dalam sistem global yang kompleks ini β dengan tanggung jawab yang melampaui dinding klinik tempat ia bekerja.
B. Capaian Pembelajaran Modul
Setelah menyelesaikan modul ini, peserta didik mampu:
- Menjelaskan arsitektur SDGs yang relevan untuk kesehatan reproduksi dan hubungan antar-tujuan yang saling menopang
- Menganalisis posisi Indonesia dalam pencapaian SDG3 dan SDG5 serta determinan kesenjangan yang tersisa
- Menjelaskan konsep Universal Health Coverage (UHC) dan evaluasi kritis pencapaian dan keterbatasannya di Indonesia
- Mengidentifikasi tren dan tantangan emerging dalam kesehatan reproduksi global β termasuk perubahan iklim, pandemi, dan pergeseran demografis
- Mensintesiskan seluruh perspektif sosiologi kesehatan dan antropologi medis yang telah dipelajari dalam kerangka refleksi peran konsultan Obginsos sebagai agen perubahan
C. Materi Inti
C.1. Dari MDGs ke SDGs: Evolusi Agenda Global
C.1.1. MDGs dan Warisannya
Millennium Development Goals (MDGs, 2000β2015) adalah tonggak penting dalam sejarah kesehatan global β untuk pertama kalinya dunia menetapkan target kuantitatif yang spesifik, dapat diukur, dan memiliki tenggat waktu. MDG5 (meningkatkan kesehatan ibu) menetapkan target penurunan AKI tiga perempat dan akses universal ke kesehatan reproduksi antara 1990 dan 2015.
Capaian global MDG5: Secara global, AKI turun 44% antara 1990 dan 2015 β signifikan, tetapi jauh dari target 75%. Di Indonesia, penurunan terjadi tetapi tidak memenuhi target: AKI turun dari 390 (1994) menjadi 305 (2017) β tidak mencapai target MDG5 sebesar 102/100.000.
Pelajaran dari MDGs:
- Target yang terukur menciptakan akuntabilitas β tetapi juga risiko gaming (manipulasi data untuk terlihat mencapai target)
- Fokus pada angka agregat menyembunyikan disparitas β negara yang "mencapai target" rata-rata nasional sering memiliki kantong-kantong kemiskinan dengan AKI yang sangat tinggi
- MDGs terlalu berfokus pada intervensi vertikal (program spesifik) dan kurang pada penguatan sistem kesehatan horizontal
- Partisipasi negara berkembang dalam desain MDGs sangat terbatas β ini diperbaiki dalam proses SDGs
C.1.2. SDGs: Transformasi Paradigmatik
SDGs berbeda dari MDGs dalam beberapa hal fundamental:
| Aspek | MDGs (2000β2015) | SDGs (2015β2030) |
|---|---|---|
| Cakupan Geografis | Secara implisit ditujukan untuk negara berkembang | Universal β semua negara, termasuk negara maju, berkomitmen untuk semua 17 tujuan |
| Integrasi Tujuan | Target-target relatif terpisah, pendekatan vertikal | Interdependensi eksplisit β 17 tujuan saling terkait, memerlukan pendekatan lintas sektor |
| Proses Desain | Partisipasi negara berkembang sangat terbatas | Konsultasi publik lebih luas, termasuk suara dari negara berkembang dan masyarakat sipil |
| Fokus | Outcome kesehatan spesifik (AKI, AKB, dll.) | Outcome + proses + sistem + keberlanjutan lingkungan |
C.2. SDGs yang Relevan untuk Kesehatan Reproduksi
C.2.1. SDG3: Good Health and Well-Being
SDG3 memiliki 13 target dengan 28 indikator. Yang paling relevan untuk kesehatan reproduksi:
Target 3.1: Mengurangi AKI global menjadi kurang dari 70 per 100.000 kelahiran hidup pada 2030
- Indonesia: 305/100.000 (2017) β target nasional RPJMN 2024: 183/100.000
- Tantangan: laju penurunan AKI Indonesia terlalu lambat untuk mencapai baik target nasional maupun global
Target 3.2: Mengakhiri kematian bayi dan anak yang dapat dicegah β termasuk AKN < 12/1.000 dan AKB < 25/1.000
- Terhubung erat dengan kesehatan ibu: komplikasi yang menyebabkan kematian ibu sering juga menyebabkan kematian neonatal
Target 3.7: Memastikan akses universal ke layanan kesehatan seksual dan reproduksi β termasuk KB, informasi dan pendidikan, dan integrasi kesehatan reproduksi ke dalam strategi nasional
- Ini adalah target yang paling komprehensif dalam SDG3 untuk agenda kesehatan reproduksi
Target 3.8: Mencapai Universal Health Coverage β termasuk perlindungan risiko finansial, akses ke layanan kesehatan esensial berkualitas
- JKN Indonesia adalah kontribusi terbesar pada target ini
C.2.2. SDG5: Gender Equality
SDG5 secara langsung relevan untuk kesehatan reproduksi karena kesehatan reproduksi perempuan tidak dapat dipisahkan dari kesetaraan gender:
- Target 5.2: Menghapus semua bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan β termasuk trafficking dan kekerasan seksual β Langsung terhubung dengan Modul 9 tentang KBG
- Target 5.3: Menghapus praktik berbahaya termasuk perkawinan anak dan FGM/C β Dua praktik yang dibahas secara spesifik di Modul 9
- Target 5.6: Memastikan akses universal ke kesehatan seksual dan reproduksi serta hak reproduktif β sesuai Programme of Action ICPD β Langsung terhubung dengan Modul 8 tentang hak reproduktif
C.2.3. Nexus SDG3-SDG5: Mengapa Keduanya Tidak Dapat Dipisahkan
Hubungan antara SDG3 dan SDG5 adalah hubungan kausal dua arah:
π SDG5 β SDG3
Kesetaraan gender yang lebih tinggi menghasilkan:
- Otonomi perempuan dalam pengambilan keputusan kesehatan β utilisasi layanan β
- Pendidikan perempuan yang lebih tinggi β literacy kesehatan β β perilaku kesehatan β
- Pemberdayaan ekonomi perempuan β kemampuan membayar layanan β
- Berkurangnya KBG β komplikasi obstetri β
π SDG3 β SDG5
Kesehatan reproduksi yang lebih baik menghasilkan:
- Kontrol fertilitas yang lebih baik β kesempatan pendidikan dan ekonomi β
- Kehamilan yang lebih aman β perempuan lebih produktif secara ekonomi
- Berkurangnya kematian ibu β anak perempuan yang kehilangan ibu β β pendidikan dan kesehatan anak β
Implikasi praktis: Program KIA yang tidak mengatasi determinan gender tidak akan mencapai target SDG3 secara sustain. Dan program kesetaraan gender yang tidak memasukkan komponen kesehatan reproduksi kehilangan salah satu mekanisme perubahan terpenting.
C.3. Universal Health Coverage: Konsep, Pencapaian, dan Keterbatasan
C.3.1. Definisi dan Dimensi UHC
WHO mendefinisikan UHC sebagai situasi di mana semua orang mendapatkan layanan kesehatan yang mereka butuhkan tanpa mengalami kesulitan finansial dalam membayarnya. UHC memiliki tiga dimensi yang saling terkait:
π² KUBUS UHC
Tujuan: 100% populasi
Tantangan Indonesia: 95%+ populasi terdaftar JKN, tetapi effective coverage lebih rendah
Tujuan: semua layanan esensial
Tantangan: paket manfaat JKN masih memiliki gap
Tujuan: tidak ada out-of-pocket catastrophic
Tantangan: biaya informal dan tidak langsung
C.3.2. JKN sebagai Implementasi UHC di Indonesia
Jaminan Kesehatan Nasional yang diluncurkan Januari 2014 adalah salah satu ekspansi UHC terbesar dan tercepat dalam sejarah β dari sekitar 76 juta peserta warisan Askes/Jamkesmas menjadi 220+ juta peserta pada 2023.
| Capaian JKN yang Signifikan | Keterbatasan dan Tantangan Persisten |
|---|---|
| β’ Peningkatan drastis utilisasi layanan, khususnya rawat inap dan persalinan di fasilitas β’ Perlindungan finansial dari biaya kesehatan katastrofik untuk kelompok miskin yang menjadi peserta PBI β’ Peningkatan cakupan persalinan oleh tenaga terlatih yang dipercepat |
β’ Kesenjangan kepesertaan formal vs. effective coverage: Terdaftar di JKN β dapat mengakses layanan yang dibutuhkan. Hambatan geografis, sosial, dan kultural tetap bekerja. β’ Kualitas yang tidak merata: JKN membiayai persalinan β tetapi tidak menjamin kualitas pelayanan. β’ Keberlanjutan finansial: BPJS Kesehatan berulang kali mengalami defisit. β’ Eksklusi kelompok paling rentan: Kelompok tanpa identitas kependudukan tetap tidak tercakup. |
C.4. Tren dan Tantangan Emerging dalam Kesehatan Reproduksi Global
C.4.1. Perubahan Iklim dan Kesehatan Reproduksi
Perubahan iklim adalah ancaman kesehatan global yang dampaknya pada kesehatan reproduksi mulai terdokumentasikan:
Relevansi untuk Indonesia: Sebagai negara kepulauan dengan garis pantai sangat panjang dan ketergantungan pertanian yang tinggi, Indonesia adalah salah satu negara yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim. Komunitas pesisir dan komunitas pertanian subsisten β yang sudah memiliki akses KIA yang terbatas β akan menjadi yang pertama terdampak.
C.4.2. Pandemi dan Kesehatan Reproduksi
COVID-19 memberikan pelajaran pahit tentang kerentanan sistem kesehatan reproduksi terhadap guncangan pandemi:
Dampak COVID-19 pada layanan KIA di Indonesia:
- Penurunan tajam kunjungan ANC pada 2020β2021: diperkirakan 30β40% penurunan cakupan K4
- Penutupan sementara Posyandu mengganggu pemantauan pertumbuhan dan imunisasi
- Ketakutan ibu hamil mengunjungi fasilitas kesehatan karena risiko infeksi
- Tenaga kesehatan yang terinfeksi atau meninggal β memperberat kekurangan tenaga yang sudah ada
Pelajaran untuk ketahanan sistem KIA: Sistem kesehatan yang kuat adalah sistem yang tidak hanya efektif dalam kondisi normal tetapi juga resilient dalam menghadapi guncangan. Ini memerlukan redundansi, adaptabilitas, dan jaringan komunitas yang kuat β bukan hanya efisiensi.
C.4.3. Teknologi Digital dan Kesehatan Reproduksi
Penetrasi smartphone yang pesat, termasuk di komunitas pedesaan Indonesia, membuka peluang transformatif untuk kesehatan reproduksi:
| Peluang Digital | Risiko dan Keterbatasan |
|---|---|
| β’ Telemedicine ANC untuk komunitas terpencil β mengurangi hambatan geografis β’ Aplikasi pemantauan kehamilan yang dapat digunakan oleh ibu dan kader β’ Sistem peringatan dini berbasis data untuk identifikasi risiko tinggi β’ Platform edukasi kesehatan yang dapat disesuaikan secara kultural dan linguistik |
β’ Digital divide: penetrasi smartphone tidak merata β justru paling rendah di komunitas yang paling membutuhkan β’ Kualitas informasi: media sosial juga menyebarkan misinformasi kesehatan reproduksi yang berbahaya β’ Privasi dan keamanan data: informasi kesehatan reproduksi yang sensitif memerlukan perlindungan yang memadai β’ Teknologi tidak menggantikan kepercayaan interpersonal yang adalah fondasi utilisasi layanan |
C.4.4. Pergeseran Demografis dan Epidemiologis
- Double burden of disease: Indonesia menghadapi beban ganda: penyakit infeksi dan komplikasi kehamilan masih tinggi di pedesaan, sementara penyakit tidak menular (hipertensi, diabetes) meningkat pesat di perkotaan. Hipertensi dan diabetes sebagai komorbiditas kehamilan adalah tantangan KIA yang berkembang pesat.
- Pergeseran demografi: Penurunan TFR yang berkelanjutan berarti perempuan memiliki lebih sedikit kehamilan β setiap kehamilan menjadi lebih bermakna secara individual, dan ekspektasi kualitas pelayanan meningkat. Program KIA perlu beradaptasi dari pendekatan berbasis volume ke pendekatan berbasis kualitas dan pengalaman.
C.5. Kesehatan Global sebagai Arena Kekuasaan
C.5.1. Siapa yang Menetapkan Agenda Kesehatan Global?
Kesehatan global bukan arena yang netral β ia adalah arena di mana kepentingan, kekuasaan, dan nilai-nilai yang berbeda berkompetisi untuk mendefinisikan apa yang menjadi prioritas, siapa yang mendapat sumber daya, dan pendekatan apa yang dianggap "berbasis bukti."
Aktor dominan dalam tata kelola kesehatan global:
- WHO: Secara resmi adalah otoritas kesehatan global tertinggi β tetapi otoritasnya semakin dibatasi oleh fragmentasi pendanaan (kontribusi anggota vs. earmarked contributions dari donor) dan persaingan dari aktor-aktor lain.
- Gates Foundation: Memiliki anggaran yang melebihi banyak negara anggota WHO dan secara signifikan membentuk prioritas penelitian dan program kesehatan global β dengan fokus pada teknologi (vaksin, diagnostik) yang mencerminkan nilai-nilai tertentu tentang solusi yang paling efektif.
- Negara-negara G7/G20: Mendominasi pengambilan keputusan dalam forum-forum multilateral dan menentukan arah pendanaan bantuan kesehatan internasional.
Implikasi: Agenda kesehatan global yang didominasi oleh aktor tertentu mungkin tidak selalu mencerminkan prioritas komunitas yang paling terdampak. Ini adalah argumen kuat untuk partisipasi bermakna negara berkembang β termasuk Indonesia β dalam tata kelola kesehatan global.
C.5.2. Ketergantungan Aid dan Keberlanjutan Program
Banyak program KIA di Indonesia β terutama di kabupaten-kabupaten dengan kapasitas fiskal terbatas β bergantung pada pendanaan dari donor internasional (USAID, GIZ, UNFPA, World Bank). Ketergantungan ini menciptakan kerentanan:
Risiko ketergantungan aid:
- Program yang efektif menghilang ketika donor funding berakhir β karena tidak ada kepemilikan dan pendanaan domestik yang cukup
- Prioritas program mengikuti agenda donor, bukan kebutuhan lokal
- Tenaga ahli internasional yang mahal menggantikan pengembangan kapasitas lokal yang lebih sustain
Prinsip aid effectiveness: Paris Declaration (2005) dan Accra Agenda for Action (2008) menetapkan prinsip-prinsip untuk meningkatkan efektivitas bantuan: ownership (kepemilikan lokal), alignment (penyelarasan dengan sistem dan prioritas nasional), harmonization (koordinasi antar donor), dan mutual accountability. Implementasinya di Indonesia masih sangat bervariasi.
C.6. Sintesis: Refleksi Peran Konsultan Obginsos
C.6.1. Dari Klinisi ke Agen Perubahan Sistemik
Selama sepuluh modul Mata Kuliah Sosiologi Kesehatan dan Antropologi Medis, kita telah membangun sebuah argumen yang konsisten: kesehatan reproduksi tidak dapat dipahami β dan tidak dapat diperbaiki β hanya dari perspektif klinis. Kematian ibu adalah produk dari determinan sosial yang kompleks; perilaku kesehatan dibentuk oleh norma, kekuasaan, dan konteks; sistem kesehatan adalah sistem sosial-politik; dan hak reproduktif perempuan adalah prasyarat untuk kesehatan yang sustain.
Ini bukan berarti kompetensi klinis tidak penting β tanpa kemampuan untuk menangani perdarahan postpartum, eklamsia, dan sepsis, semua analisis sosial tidak akan menyelamatkan satu jiwa pun. Tetapi kompetensi klinis saja tidak cukup.
C.6.2. Lima Peran Konsultan Obginsos sebagai Agen Perubahan
- Peran 1 β Klinisi yang Kompeten dan Berempati: Memberikan pelayanan klinis berkualitas tinggi yang menghormati martabat, otonomi, dan konteks budaya setiap pasien. Menerapkan RMC bukan sebagai prosedur administratif tetapi sebagai ekspresi penghormatan terhadap hak pasien. Melakukan informed consent yang bermakna, tidak sekadar formalitas.
- Peran 2 β Pemimpin Sistem: Membangun budaya pelayanan yang berorientasi kualitas dan menghormati pasien di fasilitas yang dipimpin. Mengidentifikasi dan mengintervensi pola-pola sistemik yang merugikan pasien β disrespect and abuse, over-medicalization, diskriminasi. Memberdayakan bidan dan tenaga kesehatan garis depan.
- Peran 3 β Peneliti dan Produsen Pengetahuan: Mendokumentasikan kematian ibu dan near-miss secara sistematis, menganalisis pola dan determinan, dan menggunakan temuan untuk perbaikan program. Menggunakan metode yang tepat β kuantitatif untuk menjawab "berapa" dan "seberapa," kualitatif/etnografis untuk menjawab "mengapa" dan "bagaimana."
- Peran 4 β Advokat Kebijakan: Menerjemahkan pengalaman klinis dan bukti penelitian menjadi argumen kebijakan yang efektif. Membangun koalisi dengan berbagai aktor. Memanfaatkan jendela kebijakan ketika tersedia. Bersuara dalam forum profesional dan publik tentang perubahan yang diperlukan.
- Peran 5 β Mitra Komunitas: Membangun hubungan yang setara dan saling menghormati dengan komunitas yang dilayani β bukan sebagai ahli yang memberi solusi, tetapi sebagai mitra yang mendampingi komunitas mengembangkan solusinya sendiri. Menghormati pengetahuan lokal sambil tidak mengompromikan standar keselamatan yang tidak dapat ditawar.
C.6.3. Ketegangan yang Tidak Dapat Dihindari
Menjalani kelima peran ini bukan tanpa ketegangan. Konsultan Obginsos akan secara reguler menghadapi situasi di mana nilai-nilai yang berbeda bertabrakan:
- Ketegangan antara otonomi pasien dan beneficence: Pasien memiliki hak untuk membuat keputusan yang menurut kita "salah" β termasuk menolak prosedur yang bisa menyelamatkan nyawanya. Kapan dan bagaimana kita mempertahankan rekomendasi klinis sambil menghormati otonomi?
- Ketegangan antara hak individual dan norma komunitas: Hak reproduktif seorang perempuan bertabrakan dengan norma komunitas yang kuat dan pemimpin komunitas yang merupakan mitra penting program kita. Bagaimana kita menavigasi ini tanpa mengorbankan salah satunya?
- Ketegangan antara advokasi dan profesionalisme: Bersuara tentang isu kebijakan dan praktik yang tidak adil memerlukan keberanian β dan dapat menciptakan konflik dengan atasan, institusi, atau sistem yang kita bergantung padanya. Di mana batas antara kewajiban profesional dan risiko personal yang dapat diterima?
Tidak ada jawaban mudah untuk ketegangan-ketegangan ini. Yang dapat dilakukan adalah memiliki kerangka analitis yang cukup kuat untuk berpikir jernih di tengah kompleksitasnya β dan komitmen pada nilai-nilai yang jelas tentang apa yang tidak dapat dikompromikan.
D. Pertanyaan Diskusi (Thread Dosen β Minggu 10)
Pertanyaan 1:
Indonesia berkomitmen pada SDG3.1 (AKI < 70/100.000 pada 2030) dan SDG3.7 (akses universal kesehatan reproduksi) serta SDG5 (kesetaraan gender). Namun dengan AKI nasional 305/100.000 (2017) dan disparitas ekstrem antar daerah, laju penurunan yang ada tidak cukup untuk mencapai target 2030. Menggunakan kerangka nexus SDG3-SDG5 dan pelajaran dari seluruh mata kuliah ini (determinan sosial, sistem kesehatan, kebijakan, HAM, KBG), analisis: (a) mengapa pendekatan yang selama ini dominan β fokus pada penguatan fasilitas dan peningkatan cakupan β tidak cukup untuk akselerasi yang diperlukan; (b) tiga intervensi non-klinis yang memiliki potensi dampak terbesar pada penurunan AKI di Indonesia berdasarkan bukti global β justifikasikan menggunakan teori dan bukti dari mata kuliah ini; (c) tantangan politik dan implementasi terbesar untuk masing-masing intervensi tersebut.
Pertanyaan 2:
Seorang kolega Anda baru saja kembali dari konferensi internasional dengan antusias menceritakan sebuah program inovatif dari negara Afrika Sub-Sahara yang berhasil menurunkan AKI 40% dalam 3 tahun menggunakan kombinasi teknologi digital (aplikasi pemantauan kehamilan), community health worker berbasis insentif, dan kemitraan dengan sektor swasta. Ia ingin mengusulkan agar program ini diadopsi langsung di kabupaten Anda. Menggunakan seluruh perspektif yang telah Anda pelajari β dari Difusi Inovasi, analisis kebijakan, etnografi, hingga sistem kesehatan sebagai sistem sosial β konstruksikan respons yang: (a) mengakui potensi nyata dari program tersebut; (b) mengidentifikasi setidaknya empat pertanyaan kritis yang harus dijawab sebelum program ini dapat diadaptasi dengan tepat untuk konteks kabupaten Anda; (c) merancang proses adaptasi yang menghormati konteks lokal sambil mempertahankan elemen aktif yang membuat program asli efektif β dan siapa yang harus terlibat dalam proses ini.
E. Rangkuman
- SDGs merepresentasikan transformasi paradigmatik dari MDGs yang terlalu vertikal dan berfokus pada negara berkembang, menuju agenda universal yang mengakui interdependensi antara kesehatan, kesetaraan gender, pengurangan kemiskinan, dan keberlanjutan lingkungan; nexus SDG3-SDG5 menegaskan bahwa penurunan AKI yang sustain tidak mungkin dicapai tanpa kemajuan yang bersamaan dalam kesetaraan gender
- Universal Health Coverage melalui JKN adalah pencapaian transformatif Indonesia dalam memperluas akses finansial β tetapi kepesertaan formal tidak sama dengan effective coverage; hambatan non-finansial (sosial, kultural, kualitas pelayanan) tetap bekerja dan memerlukan intervensi yang berbeda dari perluasan cakupan administratif
- Tren emerging β perubahan iklim, pandemi, digitalisasi, dan pergeseran demografis β menciptakan tantangan sekaligus peluang baru untuk kesehatan reproduksi; sistem KIA yang resilient memerlukan kapasitas adaptasi, bukan hanya efisiensi dalam kondisi normal
- Kesehatan global adalah arena kekuasaan di mana agenda, sumber daya, dan definisi "berbasis bukti" diperebutkan oleh aktor-aktor dengan kepentingan yang berbeda; ketergantungan pada aid internasional menciptakan kerentanan keberlanjutan yang hanya dapat diatasi melalui kepemilikan domestik yang sesungguhnya dan kapasitas fiskal yang lebih mandiri
- Konsultan Obginsos sebagai agen perubahan menjalani lima peran yang saling melengkapi dan sering berada dalam ketegangan: klinisi yang kompeten dan berempati, pemimpin sistem, peneliti, advokat kebijakan, dan mitra komunitas; kompetensi dalam kelima peran ini β dan kemampuan untuk bernavigasi ketegangan di antaranya β adalah definisi kepemimpinan klinis-sosial yang menjadi tujuan akhir mata kuliah ini
F. Referensi
- United Nations. Transforming Our World: The 2030 Agenda for Sustainable Development. New York: UN; 2015.
URL: https://sdgs.un.org/2030agenda - WHO. Trends in Maternal Mortality 2000β2020: Estimates by WHO, UNICEF, UNFPA, World Bank Group and UNDESA/Population Division. Geneva: WHO; 2023.
URL: https://www.who.int/publications/i/item/9789240068759 - Sachs JD. The Age of Sustainable Development. New York: Columbia University Press; 2015.
- Koum Besson ES, Norris A, Bin Ghouth AS, et al. Excess mortality during COVID-19 in five high-mortality settings in humanitarian crises. BMJ Global Health. 2021;6(3):e004781.
DOI: https://doi.org/10.1136/bmjgh-2020-004781 - Watts N, Amann M, Arnell N, et al. The 2019 report of The Lancet Countdown on health and climate change. Lancet. 2019;394(10211):1836-1878.
DOI: https://doi.org/10.1016/S0140-6736(19)32596-6 - Tangcharoensathien V, Witthayapipopsakul W, Panichkriangkrai W, et al. Health systems development in Thailand. Bulletin of the World Health Organization. 2018;96(7):462-473.
DOI: https://doi.org/10.2471/BLT.18.207720 - Shiffman J. A social explanation for the rise and fall of global health issues. Bulletin of the World Health Organization. 2009;87(8):608-613.
DOI: https://doi.org/10.2471/BLT.08.056556 - Adam T, de Savigny D. Systems thinking for strengthening health systems in LMICs: need for a paradigm shift. Health Policy and Planning. 2012;27(Suppl 4):iv1-iv3.
DOI: https://doi.org/10.1093/heapol/czs084 - Kementerian PPN/Bappenas. Metadata Indikator Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB)/Sustainable Development Goals (SDGs) Indonesia. Jakarta: Bappenas; 2020.
URL: https://sdgs.bappenas.go.id - Ghebreyesus TA. All roads lead to universal health coverage. Lancet Global Health. 2017;5(9):e839-e840.
DOI: https://doi.org/10.1016/S2214-109X(17)30295-4
π QUIZ 2 β MINGGU 10
Mata Kuliah: Sosiologi Kesehatan & Antropologi Medis
Materi: Modul 6 sampai Modul 10
π PETUNJUK PENGERJAAN
- Jawaban tidak dapat diubah setelah dikonfirmasi
- Pilih satu jawaban yang paling tepat untuk setiap soal
- Gunakan waktu dengan bijak β rata-rata 1,5 menit per soal
β SOAL QUIZ
Sebuah kebijakan nasional tentang kemitraan bidan-dukun telah ada sejak 2008, tetapi implementasinya sangat bervariasi antar kabupaten β beberapa mengimplementasikan dengan baik, banyak yang tidak. Penjelasan terbaik menggunakan konsep street-level bureaucracy Lipsky adalah:
Berdasarkan Multiple Streams Framework Kingdon, kondisi yang paling tepat menggambarkan terbukanya policy window untuk kebijakan kesehatan ibu adalah:
Seorang peneliti melakukan wawancara mendalam dengan 18 ibu hamil di satu kabupaten dan menemukan bahwa setelah wawancara ke-14, tidak ada tema baru yang muncul secara bermakna. Fenomena ini dalam penelitian kualitatif disebut:
Dalam analisis tematik (Braun & Clarke), urutan fase yang paling tepat adalah:
Seorang perempuan meminta tubektomi tetapi ditolak karena "belum ada izin suami" β sebuah kebijakan informal fasilitas yang tidak memiliki dasar hukum dalam regulasi Kemenkes manapun. Kewajiban negara mana yang dilanggar dalam situasi ini?
Kerangka AAAQ (Availability, Accessibility, Acceptability, Quality) yang digunakan untuk mengoperasionalkan hak atas kesehatan paling tepat diaplikasikan untuk mengevaluasi:
Seorang ibu hamil 32 minggu ANC rutin. Suaminya selalu hadir dan menjawab semua pertanyaan atas namanya. Ia memiliki memar di lengan atas dan tampak cemas. Langkah pertama yang paling tepat berdasarkan prinsip respons klinis KBG yang aman adalah:
Seorang ibu paritas 3 menceritakan bahwa suaminya secara diam-diam membuang pil KB-nya setiap kali ia membelinya, dan mengancam akan menceraikannya jika ia menggunakan IUD. Akibatnya, ia hamil dengan jarak hanya 8 bulan dari persalinan terakhir. Berdasarkan tipologi KBG, perilaku suami ini paling tepat dikategorikan sebagai:
Pernyataan yang paling tepat tentang hubungan antara SDG3 (Good Health) dan SDG5 (Gender Equality) dalam konteks penurunan AKI adalah:
Evaluasi paling tepat tentang keterbatasan JKN dalam mencapai UHC untuk kesehatan reproduksi perempuan marginal adalah:
π KUNCI JAWABAN DAN PEMBAHASAN
(Untuk Dosen β Tidak Dibagikan ke Mahasiswa Sebelum Quiz Berakhir)
Street-level bureaucracy Lipsky menjelaskan bahwa implementor garis depan β bidan desa dalam konteks ini β memiliki diskresi yang sangat besar dalam mengaplikasikan kebijakan dalam praktik sehari-hari. Ketika kebijakan ambigu, sumber daya tidak memadai, atau sistem dukungan tidak ada, diskresi ini menghasilkan variasi implementasi yang besar. Pilihan A dan E mengidentifikasi faktor yang mungkin berkontribusi tetapi tidak menangkap mekanisme utama. Pilihan B dan D adalah faktor eksternal yang tidak menjelaskan variasi di level implementor.
Kingdon's Multiple Streams Framework menyatakan bahwa policy window terbuka ketika tiga arus bertemu secara bersamaan: problem stream (masalah mendapat perhatian), policy stream (solusi tersedia), dan politics stream (kondisi politik mendukung). Pilihan C adalah satu-satunya yang menggambarkan ketiga arus secara simultan. Pilihan A, B, D, E masing-masing hanya mewakili satu arus β yang tidak cukup untuk membuka jendela kebijakan.
Data saturation adalah konsep metodologis kunci dalam penelitian kualitatif β titik di mana pengumpulan data tambahan tidak lagi menghasilkan tema atau informasi baru yang bermakna, dan menjadi justifikasi untuk mengakhiri pengumpulan data. Ini berbeda dari theoretical sampling (pilihan A) yang adalah strategi pemilihan partisipan, member checking (pilihan D) yang adalah strategi validasi, dan triangulasi (pilihan E) yang adalah strategi untuk meningkatkan rigor.
Enam fase analisis tematik Braun & Clarke secara berurutan adalah: (1) Familiarization with data, (2) Generating initial codes, (3) Searching for themes, (4) Reviewing themes, (5) Defining and naming themes, (6) Producing the report. Urutan ini penting karena mencerminkan proses analitis yang logis dari pemahaman umum ke abstraksi bertahap.
Ketika fasilitas kesehatan publik (sebagai agen negara) menolak layanan berdasarkan kebijakan informal yang melanggar hak pasien, ini adalah pelanggaran respect β negara melalui agennya secara langsung menghalangi perempuan menggunakan haknya. Sekaligus ini adalah pelanggaran protect β negara membiarkan kebijakan informal yang melanggar hak berlanjut tanpa koreksi. Pilihan B (hanya protect) tidak tepat karena fasilitas publik adalah agen negara, bukan pihak ketiga yang independen.
Kerangka AAAQ dari General Comment No. 14 CESCR adalah kerangka evaluasi komprehensif untuk hak atas kesehatan yang mencakup semua dimensi β ketersediaan, aksesibilitas, keberterimaan, dan kualitas β yang harus terpenuhi secara bersamaan. Tidak ada satu dimensi yang lebih penting dari lainnya, dan kegagalan di satu dimensi mencerminkan kegagalan pemenuhan hak. Kerangka ini berlaku untuk seluruh sistem kesehatan, bukan hanya untuk program atau komponen tertentu.
Prinsip pertama respons KBG yang aman adalah menciptakan privasi sebelum menanyakan tentang keamanan. Menanyakan di depan pasangan (pilihan A) dapat membahayakan pasien. Tidak menanyakan (pilihan B) adalah pengabaian kewajiban klinis. Rujukan langsung tanpa konfirmasi (pilihan D) melampaui tahap yang seharusnya. Mendokumentasikan saja (pilihan E) menunda respons yang mungkin diperlukan segera. Menciptakan privasi dengan alasan klinis yang wajar adalah langkah pertama yang aman dan etis.
Sabotase kontrasepsi β tindakan sengaja untuk mencegah pasangan menggunakan kontrasepsi tanpa persetujuannya β adalah definisi klasik dari reproductive coercion, bentuk KBG yang spesifik untuk domain reproduksi. Meskipun ada dimensi psikologis (ancaman cerai) yang benar (pilihan B), kategori yang paling tepat dan spesifik adalah reproductive coercion karena ini adalah kontrol paksa atas keputusan reproduktif, bukan sekadar tekanan emosional. Pilihan E mencerminkan kesalahpahaman umum bahwa kekerasan hanya berarti kontak fisik langsung.
Hubungan SDG3-SDG5 adalah kausal dua arah yang saling memperkuat β bukan sekuensial (pilihan D dan E) dan bukan independen (pilihan A). Kesetaraan gender meningkatkan otonomi perempuan, pendidikan, dan akses layanan, yang meningkatkan kesehatan reproduksi. Sebaliknya, kesehatan reproduksi yang lebih baik memperluas kemungkinan hidup perempuan secara ekonomi dan sosial. Ini adalah inti dari argumen bahwa SDG3 dan SDG5 tidak dapat dicapai secara terpisah.
JKN adalah pencapaian UHC yang signifikan dalam dimensi finansial β tetapi UHC memiliki lebih dari satu dimensi. Kepesertaan formal tidak sama dengan effective coverage karena hambatan non-finansial tetap bekerja: hambatan geografis bagi komunitas terpencil, hambatan sosial-kultural (disrespect and abuse, norma gender), hambatan informasi, dan hambatan kualitas. Paradoks JKN adalah bahwa perempuan yang paling membutuhkan perlindungan β yang paling miskin dan paling marginal β sering paling tidak efektif memanfaatkan layanan meskipun secara formal terdaftar.
π EXAMINATION β MINGGU 11
Mata Kuliah: Sosiologi Kesehatan & Antropologi Medis (4 SKS)
Ujian Akhir Komprehensif
π PETUNJUK PENGERJAAN
- Ujian ini menguji kemampuan sintesis komprehensif β bukan reproduksi pengetahuan dari satu modul. Setiap bagian memerlukan integrasi konsep dari minimal tiga modul yang berbeda
- Gunakan konsep secara eksplisit β sebutkan nama konsep, teori, atau kerangka, jelaskan relevansinya, kemudian aplikasikan pada kasus
- Argumen yang kuat didukung oleh bukti yang spesifik β dari skenario kasus, dari referensi yang dikutip, atau dari pengalaman klinis yang direfleksikan secara analitis
- Kualitas penalaran lebih dinilai dari kuantitas referensi β kedalaman lebih dari luasnya
- Struktur yang jelas (dengan sub-judul dan alur logis antar bagian) membantu pembaca mengikuti argumen Anda
Kabupaten Sula Selatan (nama fiktif) adalah kabupaten kepulauan di Maluku Utara dengan karakteristik berikut:
- Populasi: 187.000 jiwa, tersebar di 47 pulau berpenghuni
- Etnis dominan: Tobelo (45%), Galela (30%), Suku Bajo/Laut (15%), lainnya (10%)
- Agama: Islam (72%), Kristen Protestan (26%), lainnya (2%)
- Persentase penduduk miskin: 34% (rata-rata nasional: 9,4%)
- Rata-rata lama sekolah perempuan: 6,2 tahun
- Pernikahan anak (< 18 tahun): 22%
- Akses listrik: 61%
- Penetrasi smartphone: 28%
- AKI: 428/100.000 kelahiran hidup (rata-rata nasional: 305)
- AKB: 32/1.000 kelahiran hidup
- Cakupan ANC K1: 87%
- Cakupan ANC K4: 43%
- Persalinan di fasilitas: 39%
- Cakupan KB aktif: 27%
- Prevalensi anemia pada ibu hamil: 48%
- 1 RSUD tipe C (di ibukota kabupaten, Pulau Sula Besar)
- 8 Puskesmas (6 di Sula Besar, 2 di pulau lain)
- 14 Pustu dan 67 Posyandu
- 89 bidan (62 di Sula Besar, 27 tersebar di 16 pulau lain; 31 pulau tidak memiliki bidan)
- 127 dukun bayi terdaftar
- Jarak dari pulau terjauh ke RSUD: 6β8 jam perjalanan laut
- RSUD belum berfungsi penuh sebagai PONEK (dokter SpOG hanya 1 orang, tidak ada dokter anastesi tetap)
- Penyebab medis langsung: Perdarahan postpartum: 5 kasus | Eklamsia/preeklampsia berat: 4 kasus | Sepsis: 2 kasus | Ruptur uteri: 1 kasus
- Faktor yang berkontribusi:
- 10 dari 12: keterlambatan pengambilan keputusan di tingkat keluarga (Delay 1)
- 9 dari 12: keterlambatan atau ketidakmampuan mencapai fasilitas (Delay 2)
- 11 dari 12: keterlambatan atau kegagalan menerima perawatan yang memadai di fasilitas (Delay 3)
- 8 dari 12: tidak memiliki ANC teratur (kurang dari 4 kunjungan)
- 7 dari 12: ditolong oleh dukun bayi pada persalinan yang berakhir dengan kematian
- 4 dari 12: ada riwayat atau kecurigaan kekerasan dalam rumah tangga berdasarkan catatan keluarga
- 3 dari 12: adalah remaja usia 16β18 tahun yang menikah dini
β’ Suami: "Bukan kami tidak mau istri selamat. Tapi kalau ombak besar bagaimana? Kapal tidak jalan. Dokter di Puskesmas tidak ada. Mau bagaimana lagi?"
β’ Dukun bayi senior (Mama Yuli, 58 tahun): "Sudah 30 tahun saya tolong persalinan di sini. Pernah ada kasus susah, saya kirim ke Puskesmas. Tapi Puskesmas bilang tidak bisa tangani, suruh ke RSUD. RSUD jauh. Jadi saya yang tolong sampai selesai."
β’ Kader Posyandu: "Kami tahu mana yang berisiko tinggi. Tapi kalau kami lapor ke bidan, bidan bilang sudah catat, tapi tidak ada tindak lanjutnya. Bidan sibuk. Posyandu cuma sekali sebulan."
β’ Bidan di pulau terpencil: "Saya sendirian di pulau ini. Tidak ada dokter. Obat sering kosong β oksitosin sering habis. Kalau ada kegawatan malam hari, kapal tidak ada. Saya tidak tidur malam kalau ada yang mau melahirkan."
β PERTANYAAN UJIAN
I.1 β Analisis Multi-Level Determinan (20%)
Menggunakan minimal empat kerangka teori dari mata kuliah ini secara terintegrasi, lakukan analisis komprehensif tentang mengapa AKI di Kabupaten Sula Selatan mencapai 428/100.000. Analisis Anda harus:
a. Mengidentifikasi determinan di tiga level: struktural/makro (kebijakan, ekonomi, ketidaksetaraan), komunitas/meso (norma sosial, jaringan, sistem kepercayaan), dan individu/mikro (perilaku, pengetahuan, sikap). Untuk setiap level, gunakan setidaknya satu kerangka teori yang relevan.
b. Menjelaskan interaksi antar level β bagaimana determinan di level makro menciptakan kondisi yang memperburuk determinan di level meso dan mikro. Gunakan konsep interseksionalitas untuk menganalisis kelompok yang paling rentan di Sula Selatan.
c. Mengidentifikasi tiga kematian dari 12 yang diaudit (pilih sendiri berdasarkan pola faktor kontribusinya) dan untuk setiap kematian: rekonstruksi jalur kausal dari determinan struktural hingga kematian individual, dan identifikasi titik-titik di mana intervensi berbeda dapat mengubah outcome.
I.2 β Dimensi yang Tidak Terlihat dalam Data (20%)
Data audit kematian menunjukkan bahwa 4 dari 12 kematian memiliki riwayat atau kecurigaan KBG, dan 3 adalah remaja yang menikah dini. Namun ini kemungkinan adalah undercount yang signifikan.
a. Menggunakan perspektif etnografi kesehatan dan kekerasan berbasis gender, jelaskan mengapa KBG dan perkawinan anak sebagai kontributor kematian ibu secara sistematis tidak tercatat dalam data administratif dan audit rutin β apa mekanisme invisibilitas ini?
b. Rancang protokol investigasi tambahan yang dapat mengungkap dimensi tersembunyi ini secara lebih akurat dalam audit kematian ibu ke depan. Protokol harus mencakup: siapa yang diwawancara, pertanyaan kunci apa yang diajukan, prinsip etika apa yang mengatur proses, dan bagaimana temuan digunakan tanpa menyalahkan keluarga atau komunitas.
c. Dari perspektif HAM, apa implikasi dari undercount sistematis ini terhadap akuntabilitas negara? Jika KBG berkontribusi pada 40β50% kematian ibu (bukan 33% seperti yang tercatat), bagaimana ini mengubah analisis tentang kewajiban negara yang gagal dipenuhi?
II.1 β Strategi Intervensi Berbasis Bukti dan Kontekstual (20%)
Anda diminta menyusun kerangka strategi 3 tahun untuk mengurangi AKI Kabupaten Sula Selatan dari 428 menjadi di bawah 200/100.000.
a. Rancang tiga pilar intervensi yang saling melengkapi:
β’ Pilar 1 β Penguatan Sistem Klinis: Identifikasi intervensi klinis yang paling cost-effective dan feasible dalam konteks keterbatasan sumber daya dan geografi kepulauan. Justifikasikan prioritas menggunakan bukti dari mata kuliah ini.
β’ Pilar 2 β Perubahan Perilaku dan Norma Komunitas: Rancang strategi berbasis teori perilaku (gunakan minimal dua teori dari Modul 4) yang mengatasi Delay 1 (keterlambatan pengambilan keputusan di keluarga). Identifikasi leverage points yang paling strategis di komunitas Sula Selatan berdasarkan profil yang tersedia.
β’ Pilar 3 β Penguatan Determinan Sosial: Rancang satu intervensi lintas sektor yang mengatasi determinan sosial yang paling berkontribusi pada AKI tinggi di Sula Selatan β dan jelaskan bagaimana Anda akan membangun koalisi dengan sektor non-kesehatan untuk mengimplementasikannya.
b. Untuk setiap pilar, identifikasi: aktor yang harus dilibatkan, estimasi jangka waktu untuk melihat dampak, dan indikator yang digunakan untuk memantau kemajuan.
II.2 β Kemitraan dengan Dukun Bayi: Rancangan Program yang Terintegrasi (20%)
Mama Yuli dan 126 dukun bayi lainnya adalah aset yang tidak dapat diabaikan dalam sistem KIA Sula Selatan β terutama di 31 pulau yang tidak memiliki bidan sama sekali.
a. Rancang program kemitraan bidan-dukun yang komprehensif dan kontekstual untuk Sula Selatan. Program harus mengintegrasikan:
β’ Perspektif antropologi medis (Modul 3): bagaimana program menghormati peran sosial dan kultural dukun sambil menegosiasikan perubahan praktik yang mengancam keselamatan?
β’ Perspektif perilaku kesehatan (Modul 4): bagaimana program menggunakan prinsip Social Cognitive Theory dan Difusi Inovasi untuk memastikan dukun mengadopsi praktik yang lebih aman?
β’ Perspektif kebijakan (Modul 6): bagaimana program ini distrukturisasi agar sustain setelah periode dukungan proyek berakhir β siapa yang memiliki kepemilikan (ownership) dan bagaimana diintegrasikan ke dalam sistem anggaran kabupaten?
b. Mama Yuli menyatakan bahwa selama 30 tahun ia sudah mengirim kasus sulit ke Puskesmas. Ini menunjukkan kapasitas untuk mengidentifikasi risiko. Rancang sistem komunikasi dan rujukan yang memanfaatkan kapasitas ini β secara spesifik untuk konteks kepulauan dengan keterbatasan komunikasi dan transportasi.
III.1 β Dari Klinik ke Sistem: Peran Advokat dan Pemimpin (10%)
Anda adalah satu-satunya dokter SpOG di RSUD Sula Selatan. Di luar tanggung jawab klinis Anda yang sudah sangat berat, Anda memiliki posisi yang unik untuk berkontribusi pada perubahan sistemik.
a. Identifikasi tiga tindakan advokasi spesifik yang dapat Anda lakukan dalam tahun pertama di posisi ini β memanfaatkan posisi Anda sebagai konsultan Obginsos, data yang Anda miliki dari audit kematian, dan jaringan yang dapat Anda bangun. Untuk setiap tindakan: apa yang Anda lakukan, kepada siapa Anda berbicara, argumen apa yang Anda gunakan, dan bagaimana Anda mengukur dampaknya?
b. Ketegangan terbesar yang mungkin Anda hadapi adalah antara beban klinis yang sangat berat (sebagai satu-satunya SpOG yang harus melayani seluruh kabupaten kepulauan) dengan peran sistemik yang lebih luas. Bagaimana Anda mengelola ketegangan ini tanpa mengorbankan salah satunya β dan apa sistem dukungan yang Anda butuhkan?
III.2 β Sintesis Reflektif: Sosiologi Kesehatan dalam Praktik Obginsos (10%)
Ini adalah pertanyaan refleksi yang bersifat personal-analitis:
a. Dari sepuluh modul Sosiologi Kesehatan dan Antropologi Medis yang telah Anda pelajari, identifikasi tiga konsep atau perspektif yang paling mengubah cara Anda memahami peran konsultan Obginsos β konsep yang sebelumnya tidak ada dalam kerangka berpikir Anda atau yang mengubah cara Anda memahami masalah yang selama ini tampak sudah Anda pahami.
b. Untuk setiap konsep: jelaskan bagaimana ia mengubah pemahaman Anda β bukan hanya apa yang Anda pelajari, tetapi perbedaan konkret apa yang akan ia buat dalam praktik Anda sebagai konsultan Obginsos di lapangan.
c. Satu pertanyaan yang masih belum terjawab: apa satu pertanyaan tentang kesehatan reproduksi dan masyarakat yang setelah mempelajari seluruh mata kuliah ini justru terasa lebih kompleks dari sebelumnya β dan mengapa kompleksitasnya justru penting untuk dipertahankan daripada disederhanakan?
π RUBRIK PENILAIAN
| Bagian | Komponen yang Dinilai | Bobot |
|---|---|---|
| I.1 | Kedalaman analisis multi-level; integrasi minimal 4 kerangka teori; rekonstruksi jalur kausal per kasus | 20% |
| I.2 | Analisis mekanisme invisibilitas KBG; kualitas protokol investigasi; implikasi HAM dari undercount | 20% |
| II.1 | Kelengkapan dan kohesivitas tiga pilar; justifikasi berbasis bukti; realisme implementasi | 20% |
| II.2 | Integrasi tiga perspektif dalam program kemitraan; sistem rujukan yang kontekstual; keberlanjutan | 20% |
| III.1 | Spesifisitas tindakan advokasi; strategi mengelola ketegangan peran | 10% |
| III.2 | Kedalaman dan kejujuran refleksi; koneksi antara konsep akademis dan praktik klinis | 10% |
π KRITERIA PENILAIAN KUALITATIF
- Nilai A (85β100): Sintesis yang sangat kuat antara perspektif teoritis dan analisis kasus; penggunaan konsep yang eksplisit, tepat, dan terintegrasi lintas modul; argumen yang kohesif dengan bukti spesifik; refleksi yang genuine dan analitis; rekomendasi yang spesifik, berbasis bukti, dan realistis dalam konteks; penulisan yang jernih dan terstruktur dengan baik.
- Nilai B (70β84): Sintesis yang baik dengan beberapa gap dalam integrasi antar perspektif; penggunaan konsep yang tepat tetapi kadang kurang mendalam; argumen yang secara umum kohesif; rekomendasi yang relevan meskipun kadang kurang spesifik.
- Nilai C (60β69): Analisis yang memadai tetapi lebih bersifat deskriptif daripada analitis; penggunaan konsep yang ada tetapi tidak selalu tepat atau mendalam; kurang integrasi lintas modul; rekomendasi yang umum dan kurang berbasis bukti.
- Nilai D (<60): Analisis yang sangat dangkal atau tidak relevan; penggunaan konsep yang minim atau salah; argumen yang tidak kohesif; rekomendasi yang tidak realistis atau tidak terhubung dengan analisis.
π PANDUAN REFERENSI MINIMAL
Sepuluh referensi yang direkomendasikan β tetapi peserta didorong untuk menggunakan referensi tambahan yang relevan:
- WHO. Trends in Maternal Mortality 2000β2020. Geneva: WHO; 2023.
- Thaddeus S, Maine D. Too far to walk: maternal mortality in context. Social Science & Medicine. 1994;38(8):1091-1110.
- Marmot M. The Status Syndrome. New York: Times Books; 2004.
- Kleinman A. The Illness Narratives. Basic Books; 1988.
- Ajzen I. Theory of planned behavior. Organ Behav Hum Decis Process. 1991;50(2):179-211.
- Walt G, Gilson L. Reforming the health sector. Health Policy and Planning. 1994;9(4):353-370.
- Braun V, Clarke V. Using thematic analysis in psychology. Qual Res Psychol. 2006;3(2):77-101.
- Yamin AE, Maine DP. Maternal mortality as a human rights issue. Human Rights Quarterly. 1999;21(3):563-607.
- GarcΓa-Moreno C, et al. Addressing violence against women. Lancet. 2015;385(9978):1685-1695.
- United Nations. Transforming Our World: The 2030 Agenda for Sustainable Development. New York: UN; 2015.