Platform Pendidikan OBGINSOS

Subspesialis Obstetri Ginekologi Sosial

Modul 1 - Sosiologi Kesehatan & Antropologi Medis

Kembali
Modul 1: Sosiologi Kesehatan - Fondasi Konseptual dan Relevansinya untuk Obstetri Ginekologi Sosial

Sosiologi Kesehatan: Fondasi Konseptual dan Relevansinya untuk Obstetri Ginekologi Sosial

MK Sosiologi Kesehatan & Antropologi Medis 4 SKS — Semester 1, Periode 1

Modul 1

Dr.dr. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom

A. Deskripsi Modul

Ketika seorang ibu di Kabupaten Pegunungan Bintang Papua menolak dirujuk ke RS meskipun bidan telah menjelaskan risiko perdarahan yang mengancam jiwa, apa yang sebenarnya sedang terjadi? Dari perspektif biomedis murni, ini adalah ketidakrasionalan yang membingungkan. Dari perspektif sosiologi kesehatan, ini adalah perilaku yang sangat rasional — rasional dalam konteks sistem nilai, kepercayaan, dan struktur sosial yang melingkupi perempuan tersebut.

Sosiologi kesehatan adalah subdisiplin sosiologi yang mempelajari bagaimana faktor-faktor sosial — struktur kelas, gender, etnis, kekuasaan, institusi — membentuk distribusi penyakit, perilaku kesehatan, pengalaman sakit, dan respons sistem kesehatan. Berbeda dari epidemiologi sosial yang berfokus pada mengukur pengaruh faktor sosial terhadap kesehatan, sosiologi kesehatan berfokus pada memahami mekanisme dan makna di balik pengaruh tersebut.

Untuk subspesialis Obginsos, sosiologi kesehatan bukan ilmu tambahan yang mewah — ini adalah kompetensi inti. Mayoritas faktor yang menentukan apakah seorang ibu hidup atau meninggal berada di luar ruang operasi dan di dalam struktur sosial yang membentuk kehidupannya: siapa yang membuat keputusan dalam rumah tangga, bagaimana kehamilan dimaknai secara budaya, apakah perempuan memiliki otonomi ekonomi untuk mencari pertolongan, dan apakah sistem kesehatan dirancang dengan sensitivitas terhadap realitas kehidupan mereka.

B. Capaian Pembelajaran Modul

Setelah menyelesaikan modul ini, peserta didik mampu:

  1. Mendefinisikan sosiologi kesehatan dan membedakannya dari epidemiologi sosial, antropologi medis, dan kedokteran komunitas
  2. Menjelaskan perspektif teoritis utama dalam sosiologi kesehatan: fungsionalisme, konflik, interaksionisme simbolik, dan teori feminis
  3. Menganalisis konsep sick role, illness behavior, dan health-seeking behavior dalam konteks kesehatan reproduksi
  4. Menjelaskan determinan sosial kesehatan dan kerangka WHO untuk analisisnya
  5. Mengidentifikasi relevansi konsep-konsep sosiologi kesehatan untuk praktik dan kebijakan Obginsos di Indonesia

C. Materi Inti

C.1. Apa itu Sosiologi Kesehatan?

Sosiologi kesehatan beroperasi di persimpangan antara dua bidang besar: sosiologi (ilmu tentang masyarakat, struktur sosial, dan interaksi manusia) dan kesehatan (kondisi fisik, mental, dan sosial yang memungkinkan individu berfungsi secara penuh). Ia mempertanyakan asumsi-asumsi yang sering dianggap given dalam kedokteran:

Asumsi biomedis yang dipertanyakan sosiologi kesehatan:

Asumsi 1: "Penyakit adalah kondisi biologis yang objektif."
Sosiologi kesehatan menjawab: Apa yang diklasifikasikan sebagai "penyakit" sangat dipengaruhi oleh konteks sosial dan historis. Homoseksualitas pernah tercantum dalam DSM sebagai gangguan mental (hingga 1973). Kehamilan diklasifikasikan sebagai "kondisi medis" yang memerlukan hospitalisasi — sebuah medicalization yang baru terjadi di abad ke-20. Menopause di beberapa budaya Asia diterima sebagai transisi kehidupan yang alami, sementara di budaya Barat modern ia di-medicalize sebagai defisiensi hormon yang perlu diobati.

Asumsi 2: "Perilaku tidak sehat adalah pilihan individu yang irasional."
Sosiologi kesehatan menjawab: Perilaku kesehatan tidak terjadi dalam vakum. Seorang ibu yang terus merokok selama kehamilan meskipun tahu risikonya mungkin melakukannya karena rokok adalah mekanisme coping satu-satunya yang tersedia dalam situasi kemiskinan dan stres kronis — konteks yang tidak diperhitungkan dalam pendekatan edukasi kesehatan konvensional.

Asumsi 3: "Akses ke layanan kesehatan menentukan kesehatan."
Sosiologi kesehatan menjawab: Sebagian besar variasi kesehatan populasi ditentukan oleh faktor di luar sistem kesehatan — pendidikan, pendapatan, perumahan, kondisi kerja, dan relasi kekuasaan. Ini adalah inti dari konsep social determinants of health.

C.2. Sejarah Perkembangan Sosiologi Kesehatan

C.2.1. Akar Awal: Abad ke-19

Perhatian sosiologis terhadap kesehatan sebenarnya lebih tua dari sosiologi sebagai disiplin formal. Rudolf Virchow (1848), dokter Jerman yang juga politisi, menyatakan bahwa wabah tifus di Silesia bukan terutama masalah medis tetapi masalah kemiskinan, keterbelakangan pendidikan, dan penindasan politik. Ia berkata: "Medicine is a social science, and politics is nothing else but medicine on a large scale."

Emile Durkheim (1897) dalam karyanya Suicide mendemonstrasikan bahwa bahkan tindakan yang tampak paling individual sekalipun — bunuh diri — dipengaruhi oleh struktur sosial (integrasi sosial, regulasi moral). Ini meletakkan fondasi untuk memahami kesehatan sebagai fenomena sosial.

C.2.2. Institusionalisasi: 1950–1970

Talcott Parsons (1951) dalam The Social System memperkenalkan konsep sick role — pertama kalinya sosiologi secara sistematis menganalisis sakit sebagai peran sosial. Ini menandai kelahiran sosiologi kesehatan sebagai subdisiplin yang diakui.

C.2.3. Era Kritis: 1970–1990

Kritik terhadap medikalisasi (Zola, 1972; Conrad & Schneider, 1980), hegemoni kedokteran (Freidson, 1970), dan struktur kapitalisme sebagai penyebab penyakit (Navarro, 1976) mendominasi sosiologi kesehatan era ini — membawa dimensi kekuasaan dan politik ke dalam analisis kesehatan.

C.2.4. Era Kontemporer: 1990–sekarang

Integrasi perspektif gender (women's health movement), ras/etnis, interseksionalitas, globalisasi, dan social determinants of health (WHO Commission, 2008) memperluas dan memperdalam sosiologi kesehatan menjadi disiplin yang relevan untuk analisis kebijakan kesehatan global.

C.3. Perspektif Teoritis Utama

C.3.1. Fungsionalisme

Tokoh utama: Talcott Parsons
Asumsi dasar: Masyarakat adalah sistem yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berfungsi untuk mempertahankan stabilitas. Sakit adalah disfungsi yang mengganggu kontribusi individu terhadap masyarakat.

Konsep kunci — Sick Role (Parsons, 1951):
Parsons menganalisis sakit bukan sebagai kondisi biologis semata tetapi sebagai peran sosial yang memiliki hak dan kewajiban:

Hak penderita sakit:

  • Dibebaskan dari tanggung jawab normal (tidak perlu kerja, tidak perlu memasak)
  • Tidak disalahkan atas kondisinya

Kewajiban penderita sakit:

  • Harus berusaha sembuh (tidak boleh "menikmati" sakit)
  • Harus mencari pertolongan medis yang kompeten dan kooperatif

Relevansi untuk Obginsos: Konsep sick role membantu memahami mengapa komplikasi kehamilan sering tidak diakui sebagai "sakit" di beberapa komunitas Indonesia. Kehamilan dikategorikan sebagai kondisi normal bukan patologis — sehingga perempuan tidak merasa "berhak" mengambil sick role dan mencari pertolongan medis. Ini berkontribusi pada Fase 2 keterlambatan (Three Delays): terlambat mengambil keputusan mencari pertolongan.

Kritik terhadap fungsionalisme: Mengabaikan konflik dan ketidaksetaraan — asumsi bahwa semua bagian masyarakat "berfungsi" dengan harmonis menyembunyikan relasi kekuasaan yang menentukan siapa yang mendapat akses ke layanan kesehatan dan siapa yang tidak.

C.3.2. Teori Konflik

Tokoh utama: Karl Marx (fondasi), Friedrich Engels, Vicente Navarro, Howard Waitzkin
Asumsi dasar: Masyarakat ditandai oleh konflik antara kelompok dengan kepentingan berbeda, terutama antara kelas yang memiliki modal dan kelas yang tidak. Distribusi penyakit dan akses ke layanan kesehatan mencerminkan dan mereproduksi ketidaksetaraan kelas ini.

Kontribusi kunci:

  • Engels (1845): The Condition of the Working Class in England — dokumentasi empiris pertama bagaimana kondisi kerja dan perumahan buruh industri menyebabkan penyakit dan kematian dini. Bukan biologi yang membunuh buruh pabrik, tetapi kapitalisme industri.
  • Navarro (1976): Sistem kesehatan kapitalis dirancang bukan untuk memaksimalkan kesehatan populasi tetapi untuk memaksimalkan profit — industri farmasi, asuransi kesehatan, dan profesi medis yang terorganisasi adalah aktor-aktor kekuasaan yang menentukan kebijakan kesehatan.

Relevansi untuk Obginsos: Distribusi AKI yang tidak merata di Indonesia bukan kebetulan — ia mencerminkan ketidaksetaraan akses berdasarkan kelas sosial, geografi, dan etnis yang merupakan produk sejarah kolonialisme dan ketidakmerataan pembangunan. Pendekatan "teknis" semata (tambah bidan, tambah obat) tanpa mengubah struktur ketidaksetaraan yang mendasar akan memiliki dampak terbatas.

C.3.3. Interaksionisme Simbolik

Tokoh utama: George Herbert Mead, Herbert Blumer, Erving Goffman, Howard Becker
Asumsi dasar: Realitas sosial dikonstruksi melalui interaksi dan interpretasi makna. Orang bertindak berdasarkan makna yang mereka berikan terhadap situasi, dan makna ini diciptakan dan dimodifikasi melalui interaksi sosial.

Konsep kunci untuk kesehatan:

  • Stigma (Goffman, 1963): Stigma adalah atribut yang mendiskreditkan seseorang dan mereduksinya dari "orang utuh" menjadi "orang yang ternoda." Dalam konteks kesehatan reproduksi: HIV/AIDS, infertilitas, keguguran berulang, kanker serviks (diasosiasikan dengan perilaku seksual "tidak bermoral") — semua membawa stigma yang mencegah perempuan mencari pertolongan.
  • Labeling dan medicalization: Proses di mana kondisi atau perilaku tertentu diberi label sebagai "medis" dan dengan demikian menjadi domain kontrol profesional medis. Kehamilan, persalinan, menopause, hiperaktivitas anak — semuanya pernah atau sedang mengalami proses medikalisasi.
  • Illness narratives: Cara pasien mengkonstruksi narasi tentang sakit mereka — siapa yang salah, apa artinya, bagaimana seharusnya ditangani — sangat mempengaruhi health-seeking behavior dan kepatuhan terhadap pengobatan.

Relevansi untuk Obginsos: Memahami bagaimana perempuan di komunitas tertentu memaknai kehamilan dan komplikasinya adalah prasyarat untuk desain komunikasi kesehatan yang efektif. Program KIA yang menggunakan bahasa dan framing biomedis murni sering gagal karena tidak beresonansi dengan makna yang hidup dalam komunitas.

C.3.4. Teori Feminis

Tokoh utama: Ann Oakley, Hilary Graham, Lesley Doyal, Angela Davis
Asumsi dasar: Gender adalah struktur kekuasaan fundamental yang membentuk pengalaman kesehatan dan sakit secara berbeda bagi perempuan dan laki-laki. Sistem medis tradisional telah mendominasi, mengontrol, dan sering merugikan tubuh dan pengalaman perempuan.

Kontribusi kunci:

  • Oakley (1984): The Captured Womb — analisis bagaimana medikalisasi kehamilan di abad ke-20 telah mengambil alih kontrol dari perempuan dan masyarakat dan menyerahkannya ke profesi medis yang didominasi laki-laki, sering kali dengan dampak yang tidak selalu positif bagi perempuan.
  • Otonomi reproduktif: Hak perempuan untuk membuat keputusan tentang tubuh mereka sendiri — keputusan kontrasepsi, kehamilan, persalinan, dan aborsi — adalah hak asasi manusia yang sering dilanggar oleh sistem kesehatan, kebijakan negara, dan norma komunitas.
  • Interseksionalitas (Crenshaw, 1989): Pengalaman seorang perempuan miskin, kulit hitam, dari daerah terpencil tidak dapat dipahami hanya dari satu dimensi (gender, kelas, atau ras) — ketiga dimensi ini berinteraksi untuk menciptakan pengalaman penindasan yang unik dan berlapis.

Relevansi untuk Obginsos: AKI yang tidak proporsional tinggi di kelompok perempuan miskin, berpendidikan rendah, dan dari komunitas adat bukan hanya masalah akses geografis — ia adalah manifestasi dari interseksi ketidaksetaraan gender, kelas, dan etnis yang menghasilkan kerapuhan berlapis (layered vulnerability).

C.4. Determinan Sosial Kesehatan

C.4.1. Konsep Dasar

WHO Commission on Social Determinants of Health (2008) mendefinisikan social determinants of health sebagai: kondisi di mana orang dilahirkan, tumbuh, hidup, bekerja, dan menua — termasuk sistem kesehatan. Kondisi-kondisi ini dibentuk oleh distribusi uang, kekuasaan, dan sumber daya di tingkat global, nasional, dan lokal.

Komisi yang diketuai Sir Michael Marmot ini menyimpulkan: "Social injustice is killing people on a grand scale."

C.4.2. Kerangka CSDH-WHO

KONTEKS SOSIO-EKONOMI & POLITIK (Governance, kebijakan makroekonomi, kebijakan sosial, nilai budaya) │ ▼ POSISI SOSIAL (Kelas sosial, gender, etnis/ras, pendidikan, pekerjaan, pendapatan) │ ▼ DETERMINAN ANTARA (INTERMEDIARY) ┌─────────────────────────────────┐ │ Kondisi material: │ │ Perumahan, lingkungan kerja, │ │ keamanan pangan, akses layanan │ │─────────────────────────────────│ │ Kondisi psikososial: │ │ Stresor, dukungan sosial, │ │ kontrol atas kehidupan │ │─────────────────────────────────│ │ Faktor perilaku & biologis: │ │ Nutrisi, merokok, aktivitas │ │ fisik, akses pelayanan kesehatan│ └─────────────────────────────────┘ │ ▼ EKUITAS KESEHATAN (Distribusi status kesehatan dan kesejahteraan)

C.4.3. Social Gradient of Health

Salah satu temuan paling konsisten dalam sosiologi kesehatan adalah social gradient — kesehatan membaik secara gradual seiring dengan meningkatnya status sosial ekonomi, bukan hanya perbandingan antara "miskin" dan "kaya." Ini adalah temuan dari Whitehall Studies (Marmot, 1978) — studi kohort pejabat sipil Inggris yang menunjukkan bahwa bahkan di antara orang yang bekerja dan tidak dalam kemiskinan ekstrem, mereka yang berstatus lebih rendah dalam hierarki jabatan memiliki mortalitas lebih tinggi.

Implikasi: Intervensi yang hanya menyasar "yang paling miskin" tidak cukup — gradien sosial berarti bahwa ketidaksetaraan kesehatan berjalan sepanjang spektrum sosial.

C.4.4. Determinan Sosial dan AKI Indonesia

Penelitian di Indonesia secara konsisten menunjukkan bahwa AKI tidak terdistribusi secara acak:

  • Provinsi dengan indeks kemiskinan tinggi (Papua, NTT, Maluku) memiliki AKI jauh di atas rata-rata nasional
  • Perempuan tanpa pendidikan formal memiliki risiko kematian ibu 3–5 kali lebih tinggi dari perempuan dengan pendidikan SMA ke atas
  • Perempuan dari etnis minoritas dan komunitas adat menghadapi hambatan budaya-bahasa yang berlapis dalam mengakses layanan kesehatan formal
  • Perempuan dalam rumah tangga miskin memiliki decision-making power yang lebih rendah untuk mencari pertolongan medis

Ini bukan kebetulan — ini adalah konsekuensi yang dapat diprediksi dari struktur determinan sosial yang tidak setara.

C.5. Konsep-Konsep Operasional Kunci

C.5.1. Illness Behavior dan Health-Seeking Behavior

Illness behavior (Mechanic, 1962) adalah cara individu merespons gejala fisik dan psikologis yang mereka alami. Tidak semua orang dengan gejala yang sama akan mencari pertolongan medis — respons dipengaruhi oleh:

  • Visibilitas dan persistensi gejala
  • Pengetahuan dan kepercayaan tentang penyebab gejala
  • Toleransi terhadap ketidaknyamanan (dipengaruhi budaya dan kelas)
  • Ketersediaan alternatif penjelasan dan pengobatan
  • Biaya (ekonomi, waktu, sosial) untuk mencari pertolongan
  • Kemudahan akses ke layanan kesehatan

Health-seeking behavior adalah rentang perilaku yang dilakukan individu ketika merasakan masalah kesehatan — dari self-treatment, konsultasi informal (keluarga, tokoh masyarakat), pengobatan tradisional, hingga fasilitas kesehatan formal.

Model Tiga Delay (Thaddeus & Maine, 1994) sebenarnya adalah model health-seeking behavior yang dikontekstualisasikan untuk kematian ibu:

  • Fase 1: Terlambat memutuskan mencari pertolongan (illness behavior — apakah kondisi diakui sebagai darurat?)
  • Fase 2: Terlambat mencapai fasilitas yang tepat (akses — geografi, transportasi, ekonomi)
  • Fase 3: Terlambat mendapat pertolongan adekuat di fasilitas (kualitas pelayanan)

C.5.2. Medicalization

Medicalization adalah proses di mana kondisi atau perilaku yang sebelumnya bukan domain medis menjadi dikategorikan dan ditangani sebagai masalah medis. Conrad & Schneider (1980) menjelaskan ini sebagai ekspansi jurisdiksi profesional medis.

Contoh dalam obstetri-ginekologi:

  • Persalinan normal: dari event komunitas yang dikelola dukun menjadi prosedur medis di RS
  • Menopause: dari transisi kehidupan menjadi "defisiensi estrogen" yang memerlukan terapi
  • PMS: dari pengalaman normal siklus menstruasi menjadi diagnosis psikiatrik
  • Kesuburan: dari takdir atau berkah menjadi kondisi medis yang dapat (dan seharusnya) diintervensi

Medicalization tidak selalu buruk — medikalisasi persalinan telah menyelamatkan jutaan jiwa melalui akses ke intervensi darurat. Tetapi medikalisasi berlebihan (over-medicalization) juga membawa risiko: intervensi tidak perlu (SC tanpa indikasi medis), hilangnya otonomi perempuan, dan ketergantungan pada sistem medis formal bahkan untuk kondisi normal.

C.5.3. Social Capital dan Kesehatan

Social capital (Putnam; Bourdieu) mengacu pada sumber daya yang tersedia melalui jaringan sosial — kepercayaan, norma timbal balik, dan jaringan komunitas. Dalam konteks kesehatan:

  • Bonding social capital: Ikatan dalam kelompok yang homogen (keluarga, komunitas adat) — dapat memberikan dukungan sosial tetapi juga dapat memperkuat norma yang menghambat pencarian pertolongan medis.
  • Bridging social capital: Ikatan antara kelompok yang berbeda — koneksi antara komunitas dan sistem kesehatan formal, antara perempuan miskin dan informasi kesehatan yang akurat.
  • Linking social capital: Koneksi dengan institusi dan kekuasaan formal — kemampuan komunitas untuk mempengaruhi kebijakan kesehatan yang memengaruhi mereka.

Penelitian menunjukkan bahwa perempuan dengan bridging dan linking social capital yang lebih kuat lebih mungkin mencari pertolongan medis tepat waktu saat komplikasi obstetri terjadi.

C.6. Sosiologi Kesehatan dan Anthropologi Medis: Perbedaan dan Komplementaritas

Dua disiplin ini sering digunakan berdampingan, dan memahami perbedaan serta saling melengkapinya adalah penting:

Dimensi Sosiologi Kesehatan Antropologi Medis
Fokus utama Struktur sosial, institusi, ketidaksetaraan Budaya, makna, praktik lokal
Unit analisis Kelompok, kelas, populasi Komunitas, individu dalam konteks budaya
Metode Survey, analisis statistik, teori Etnografi, observasi partisipan, wawancara mendalam
Pertanyaan khas "Mengapa kelompok X lebih sakit dari kelompok Y?" "Bagaimana komunitas X memaknai dan mengelola sakit?"
Kontribusi utama Mengidentifikasi determinan struktural Memahami perspektif emik dan praktik budaya

Keduanya tidak dapat menggantikan satu sama lain — sosiologi memberi kerangka struktural untuk memahami distribusi kesehatan, sementara antropologi memberi kedalaman untuk memahami mekanisme budaya di tingkat komunitas. Modul 1–5 mata kuliah ini akan lebih berfokus pada sosiologi kesehatan; Modul 6–10 akan beralih ke antropologi medis.

D. Pertanyaan Diskusi (Thread Dosen – Minggu 1)

Pertanyaan 1:
Konsep "sick role" Parsons mengasumsikan bahwa penderita sakit "tidak boleh disalahkan" atas kondisinya dan "harus berusaha sembuh." Dalam konteks kesehatan reproduksi di Indonesia, seringkali seorang ibu dengan tanda bahaya kehamilan tidak mengambil sick role — ia terus bekerja, tidak mencari pertolongan, dan bahkan menyembunyikan kondisinya dari keluarga. Dengan menggunakan perspektif sosiologi (fungsionalis, konflik, ATAU interaksionis — pilih salah satu), analisis mengapa fenomena ini terjadi. Identifikasi setidaknya dua faktor sosial struktural yang mencegah perempuan mengambil sick role ketika mengalami komplikasi kehamilan, dan diskusikan implikasinya terhadap strategi komunikasi program KIA.

Pertanyaan 2:
WHO menyatakan bahwa "kondisi di mana orang dilahirkan, tumbuh, hidup, bekerja, dan menua" adalah determinan terpenting kesehatan — jauh lebih berpengaruh dari pelayanan kesehatan itu sendiri. Namun kebijakan kesehatan di Indonesia dan sebagian besar negara berkembang masih sangat terfokus pada perluasan fasilitas dan tenaga kesehatan. Menggunakan kerangka determinan sosial kesehatan, evaluasi: (a) apa yang dapat dan tidak dapat dicapai oleh pendekatan berbasis fasilitas dalam menurunkan AKI di Indonesia; (b) intervensi di luar sektor kesehatan apa yang berpotensi memiliki dampak terbesar terhadap kematian ibu berdasarkan bukti internasional; dan (c) apa hambatan politik-ekonomi yang membuat intervensi lintas sektor ini sulit diimplementasikan?

E. Rangkuman

  1. Sosiologi kesehatan mempelajari bagaimana struktur sosial — kelas, gender, etnis, kekuasaan — membentuk distribusi penyakit, perilaku kesehatan, dan respons sistem kesehatan; ia melengkapi epidemiologi dengan bertanya tidak hanya berapa tetapi mengapa dan bagaimana faktor sosial bekerja
  2. Empat perspektif teoritis utama memberikan lensa yang berbeda dan saling melengkapi: fungsionalisme (sick role, fungsi sistem), teori konflik (ketidaksetaraan struktural, kekuasaan dalam medis), interaksionisme simbolik (makna, stigma, konstruksi sosial penyakit), dan teori feminis (gender, otonomi reproduktif, interseksionalitas)
  3. Determinan sosial kesehatan — kondisi material, psikososial, dan struktural yang membentuk kehidupan — menjelaskan sebagian besar variasi kesehatan populasi yang tidak dapat dijelaskan oleh faktor biologis atau akses layanan semata; social gradient of health menunjukkan bahwa hubungan ini berjalan sepanjang seluruh spektrum sosial
  4. Konsep operasional seperti illness behavior, health-seeking behavior, medikalisasi, dan social capital menyediakan jembatan antara teori sosiologis abstrak dan fenomena konkret yang dihadapi dalam praktik dan kebijakan Obginsos
  5. Sosiologi kesehatan dan antropologi medis adalah disiplin komplementer — sosiologi menyediakan kerangka untuk memahami distribusi struktural, sementara antropologi medis menyediakan kedalaman untuk memahami makna budaya dan praktik lokal; keduanya diperlukan untuk membentuk konsultan Obginsos yang komprehensif

F. Referensi

  1. Parsons T. The Social System. New York: Free Press; 1951.
    URL: https://archive.org/details/socialsystem00pars
  2. Marmot M, Wilkinson R (eds). Social Determinants of Health. 2nd ed. Oxford: Oxford University Press; 2006.
    DOI: https://doi.org/10.1093/acprof:oso/9780198565895.001.0001
  3. WHO Commission on Social Determinants of Health. Closing the Gap in a Generation: Health Equity through Action on the Social Determinants of Health. Geneva: WHO; 2008.
    URL: https://www.who.int/publications/i/item/WHO-IER-CSDH-08.1
  4. Conrad P, Schneider JW. Deviance and Medicalization: From Badness to Sickness. St. Louis: Mosby; 1980.
  5. Goffman E. Stigma: Notes on the Management of Spoiled Identity. Englewood Cliffs: Prentice-Hall; 1963.
  6. Thaddeus S, Maine D. Too far to walk: maternal mortality in context. Social Science & Medicine. 1994;38(8):1091-1110.
    DOI: https://doi.org/10.1016/0277-9536(94)90226-7
  7. Mechanic D. The concept of illness behavior. Journal of Chronic Diseases. 1962;15(2):189-194.
    DOI: https://doi.org/10.1016/0021-9681(62)90068-2
  8. Oakley A. The Captured Womb: A History of the Medical Care of Pregnant Women. Oxford: Blackwell; 1984.
  9. Navarro V. Medicine under Capitalism. New York: Prodist; 1976.
  10. Krieger N. Theories for social epidemiology in the 21st century: an ecosocial perspective. International Journal of Epidemiology. 2001;30(4):668-677.
    DOI: https://doi.org/10.1093/ije/30.4.668