A

Deskripsi Modul

Jika Modul 1 membangun cara berpikir epidemiologis, maka Modul 2 membangun cara bertindak ilmiah: memilih desain penelitian yang tepat untuk menjawab pertanyaan klinis dan sosial dalam obstetri ginekologi. Desain penelitian bukan sekadar formalitas akademik. Ia menentukan validitas kesimpulan, kekuatan rekomendasi kebijakan, dan pada akhirnya, apakah intervensi yang diambil benar-benar efektif atau sekadar terlihat efektif.

Dalam konteks subspesialis Obginsos, pemilihan desain penelitian memiliki implikasi langsung: apakah program KIA yang direkomendasikan kepada Dinas Kesehatan benar-benar terbukti efektif, atau hanya terlihat efektif karena desain studi yang lemah? Modul ini membekali peserta didik dengan kemampuan membedakan, memilih, dan mengevaluasi berbagai desain penelitian — dari yang paling eksploratif hingga yang paling konklusif.

B

Capaian Pembelajaran Modul

Setelah menyelesaikan modul ini, peserta didik mampu:

1

Menjelaskan hierarki desain penelitian (hierarchy of evidence) dan implikasinya terhadap kekuatan bukti

2

Membedakan karakteristik, kelebihan, dan keterbatasan desain penelitian observasional (deskriptif dan analitik)

3

Menjelaskan prinsip desain penelitian eksperimental, khususnya Randomized Controlled Trial (RCT)

4

Memilih desain penelitian yang paling sesuai untuk pertanyaan penelitian di bidang obstetri ginekologi sosial

5

Mengidentifikasi ancaman validitas internal dan eksternal pada masing-masing desain

C

Materi Inti

C.1. Hierarki Bukti Ilmiah (Hierarchy of Evidence)

Tidak semua penelitian memiliki kekuatan bukti yang sama. Hierarki bukti ilmiah — yang pertama kali dipopulerkan dalam konteks evidence-based medicine oleh Sackett et al. dan kemudian disempurnakan oleh sistem GRADE — memberikan panduan tentang seberapa kuat suatu desain penelitian mampu membuktikan hubungan sebab-akibat.

Piramida Bukti (dari terkuat ke terlemah):

Systematic Review & Meta-Analysis
Tingkat I
Randomized Controlled Trial (RCT)
Tingkat II
Cohort Study
Tingkat III
Case-Control Study
Tingkat IV
Cross-Sectional Study
Tingkat V
Case Report / Series
Tingkat VI
Expert Opinion / Editorial
Tingkat VII
Catatan Penting:

Hierarki ini bukan dogma absolut. Untuk pertanyaan tentang harm atau prognosis, studi kohort sering lebih tepat dari RCT. Untuk pertanyaan tentang prevalensi, studi potong lintang justru paling sesuai. Dan untuk memahami pengalaman subjektif pasien atau hambatan sosial-budaya, penelitian kualitatif — yang sering tidak masuk piramida ini — justru tak tergantikan.

C.2. Penelitian Deskriptif

Penelitian deskriptif menjawab pertanyaan "siapa, apa, di mana, kapan" tanpa menguji hipotesis kausal. Ini adalah titik awal dari seluruh investigasi epidemiologis.

2.1 Laporan Kasus (Case Report) dan Seri Kasus (Case Series)

Case report adalah deskripsi mendalam tentang satu pasien dengan presentasi klinis yang tidak biasa. Case series adalah kumpulan beberapa kasus serupa.

Karakteristik:
  • • Tidak ada kelompok pembanding
  • • Tidak dapat menghitung risiko
  • • Berguna untuk: mendeteksi sinyal awal penyakit baru, mendokumentasikan efek samping obat yang jarang, menghasilkan hipotesis
Contoh dalam Obstetri:

Laporan pertama kasus amniotic fluid embolism, atau seri kasus komplikasi COVID-19 pada ibu hamil di awal pandemi 2020.

2.2 Studi Ekologis (Ecological Study)

Unit analisis bukan individu melainkan kelompok (kota, provinsi, negara). Data agregat digunakan untuk mengidentifikasi korelasi populasi.

Karakteristik:
  • • Cepat dan murah menggunakan data yang sudah tersedia
  • • Tidak dapat menarik kesimpulan tentang individu (ecological fallacy)
  • • Berguna untuk: membangkitkan hipotesis, monitoring AKI lintas wilayah
Contoh dalam Obstetri:

Analisis korelasi antara indeks pembangunan manusia (IPM) dengan AKI lintas kabupaten di Indonesia. Studi ini dapat menunjukkan korelasi positif kuat, tetapi tidak membuktikan bahwa meningkatkan IPM secara individual akan menurunkan AKI seseorang.

Ecological Fallacy:

Kesalahan menarik kesimpulan individual dari data agregat. Contoh: meskipun data ekologis menunjukkan korelasi antara pendapatan daerah dengan AKI, bukan berarti setiap ibu kaya di daerah miskin memiliki risiko tinggi kematian.

2.3 Studi Potong Lintang (Cross-Sectional Study)

Pengukuran paparan dan outcome dilakukan secara bersamaan pada satu titik waktu atau periode waktu tertentu.

Karakteristik:
  • • Tidak dapat menentukan temporalitas (mana yang lebih dulu: paparan atau penyakit)
  • • Efisien untuk prevalensi
  • • Rentan terhadap prevalence-incidence bias (Neyman bias)
Contoh dalam Obstetri:

SDKI (Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia) adalah studi potong lintang berskala nasional yang memberikan data prevalensi ANC, persalinan dengan tenaga kesehatan, dan penggunaan KB.

Prevalence Ratio (PR) = Prevalensi pada kelompok terpapar / Prevalensi pada kelompok tidak terpapar

C.3. Penelitian Analitik Observasional

Penelitian analitik observasional menguji hipotesis hubungan antara paparan dan outcome, tanpa peneliti mengalokasikan paparan.

C.3.1. Studi Kohort (Cohort Study)

Sekelompok orang yang bebas dari outcome pada awal pengamatan (kohort) diikuti dari waktu ke waktu untuk melihat siapa yang mengembangkan outcome berdasarkan status paparan.

Waktu pengamatan →
Terpapar (n = n₁) ────────►
Outcome (+) / (-)
Tidak Terpapar (n = n₀) ────────►
Outcome (+) / (-)
Kohort Prospektif

Dimulai saat ini, diikuti ke masa depan. Lebih mahal dan membutuhkan waktu lebih lama, tetapi kualitas data paparan lebih baik.

Kohort Retrospektif (Historis)

Menggunakan data yang sudah ada dari masa lalu. Lebih cepat dan murah, tetapi kualitas data bergantung pada rekam medis yang tersedia.

Risiko Relatif (RR) = Insidens pada kelompok terpapar / Insidens pada kelompok tidak terpapar
Kelebihan:
  • • Dapat menghitung insidens dan risiko absolut
  • • Temporal sequence jelas (paparan mendahului outcome)
  • • Dapat mempelajari multiple outcomes dari satu paparan
  • • Standar emas untuk studi prognosis
Keterbatasan:
  • • Mahal dan membutuhkan waktu lama (untuk kohort prospektif)
  • • Rentan terhadap loss to follow-up
  • • Tidak efisien untuk penyakit langka
Contoh dalam Obstetri:

Studi kohort ibu hamil dengan preeklampsia yang diikuti selama 10 tahun untuk melihat risiko penyakit kardiovaskular jangka panjang. Atau kohort ibu yang mengikuti ANC minimal 4× dibandingkan yang tidak, untuk mengukur perbedaan luaran perinatal.

C.3.2. Studi Kasus-Kontrol (Case-Control Study)

Dimulai dari outcome, kemudian menelusuri ke belakang untuk mengidentifikasi paparan. Kasus (yang mengalami outcome) dibandingkan dengan kontrol (yang tidak mengalami outcome).

Masa lalu ←──────────── Sekarang
Terpapar (a) ────────►
KASUS (Outcome+)
Tidak Terpapar (b) ───►
KASUS (Outcome+)
Terpapar (c) ────────►
KONTROL (Outcome-)
Tidak Terpapar (d) ───►
KONTROL (Outcome-)
Odds Ratio (OR) = (a × d) / (b × c)
Kelebihan:
  • • Efisien untuk penyakit langka atau dengan periode laten panjang
  • • Lebih murah dan cepat dibanding kohort
  • • Dapat mempelajari multiple paparan untuk satu outcome
Keterbatasan:
  • • Tidak dapat menghitung insidens atau risiko absolut
  • • Rentan terhadap recall bias (kasus lebih ingat paparan di masa lalu dibanding kontrol)
  • • Selection bias dalam memilih kontrol
Contoh dalam Obstetri:

Studi kasus-kontrol kematian ibu — membandingkan ibu yang meninggal (kasus) dengan ibu yang selamat dari komplikasi serupa (kontrol) untuk mengidentifikasi faktor yang membedakan. Ini adalah desain yang paling sering digunakan dalam confidential enquiry into maternal deaths.

Pemilihan Kontrol yang Tepat — Prinsip Kritis:

Kontrol harus berasal dari populasi yang sama dengan kasus (source population), dan seandainya mereka mengembangkan outcome, mereka akan menjadi kasus dalam studi yang sama. Kesalahan dalam pemilihan kontrol adalah sumber bias terbesar dalam studi kasus-kontrol.

C.4. Penelitian Eksperimental

Penelitian eksperimental — khususnya RCT — adalah desain yang paling kuat untuk menguji efektivitas intervensi karena randomisasi mengontrol confounding yang diketahui maupun tidak diketahui.

C.4.1. Randomized Controlled Trial (RCT)

Partisipan secara acak dialokasikan ke kelompok intervensi atau kontrol, kemudian diikuti untuk mengukur outcome.

Populasi Eligible
Randomisasi
Kelompok Intervensi
Kelompok Kontrol
Outcome diukur
Outcome diukur
Prinsip Utama RCT:
1
Randomisasi

Pengalokasian acak memastikan bahwa faktor prognostik (baik yang diketahui maupun tidak) terdistribusi merata antara kelompok. Ini adalah keunggulan fundamental RCT dibanding desain lain.

2
Blinding (Masking)

Mencegah bias dalam penilaian outcome:

  • Single blind: peserta tidak tahu alokasi
  • Double blind: peserta dan peneliti tidak tahu alokasi
  • Triple blind: peserta, peneliti, dan analis tidak tahu alokasi
3
Intention-to-treat (ITT) Analysis

Analisis berdasarkan alokasi awal, bukan berdasarkan intervensi yang benar-benar diterima. Ini mempertahankan keunggulan randomisasi dan mencerminkan efektivitas dalam kondisi riil.

Varian RCT:
Cluster RCT

Unit randomisasi adalah kelompok (desa, puskesmas), bukan individu. Sering digunakan dalam penelitian sistem kesehatan di Indonesia.

Crossover RCT

Setiap partisipan menerima kedua intervensi secara bergantian.

Factorial RCT

Menguji dua atau lebih intervensi secara bersamaan.

Stepped-wedge RCT

Semua kelompok akhirnya menerima intervensi, tetapi pada waktu yang berbeda secara acak — relevan untuk intervensi sistem kesehatan yang tidak etis jika ditahan dari sebagian populasi.

Keterbatasan RCT dalam Penelitian Obginsos:
  • Tidak selalu etis: tidak mungkin merandomisasi paparan berbahaya (misal: merokok selama kehamilan)
  • External validity terbatas: populasi RCT sering tidak representatif (explanatory trials)
  • Mahal dan membutuhkan waktu lama
  • Tidak mampu menjawab pertanyaan tentang determinan sosial atau pengalaman subjektif
Contoh dalam Obstetri:

WHO-MIGS Trial (Magnesium sulphate for the prevention of eclampsia), Magpie Trial, atau WOMAN Trial (tranexamic acid untuk perdarahan postpartum) — semua RCT multisenter yang membentuk standar praktik obstetri global.

C.4.2. Quasi-Experimental Design

Ketika randomisasi tidak mungkin dilakukan, quasi-experimental designs menawarkan alternatif dengan tingkat kontrol yang lebih rendah:

Interrupted Time Series (ITS)

Menganalisis tren outcome sebelum dan sesudah suatu intervensi. Berguna untuk evaluasi kebijakan kesehatan (misal: dampak JKN terhadap AKI).

Difference-in-Differences (DiD)

Membandingkan perubahan outcome antara kelompok yang terpapar kebijakan dan yang tidak.

Regression Discontinuity Design (RDD)

Memanfaatkan threshold kebijakan sebagai sumber variasi eksogen.

C.5. Pemilihan Desain Penelitian dalam Praktik

Panduan Pemilihan Berdasarkan Pertanyaan Penelitian:

Pertanyaan Penelitian Desain yang Direkomendasikan
Seberapa sering preeklampsia di wilayah X? Cross-sectional / surveilans
Apakah ANC ≥4× mengurangi risiko BBLR? Cohort prospektif atau retrospektif
Faktor apa yang berkontribusi terhadap kematian ibu? Case-control / confidential enquiry
Apakah program bidan desa mengurangi AKI? Cluster RCT atau ITS
Apa pengalaman ibu dalam mengakses layanan persalinan? Kualitatif (fenomenologi/grounded theory)
Seberapa akurat CTG dalam prediksi asfiksia? Cross-sectional diagnostik
Berapa besar kemungkinan komplikasi setelah SC? Cohort / studi prognosis
Prinsip Praktis:

Desain penelitian harus dipilih berdasarkan pertanyaan, bukan berdasarkan familiaritas atau kemudahan. Salah satu kesalahan paling umum dalam penelitian obstetri di Indonesia adalah menggunakan cross-sectional untuk menjawab pertanyaan yang membutuhkan temporal sequence — misalnya mengklaim hubungan kausal antara paparan dan outcome hanya dari satu kali pengukuran.

C.6. Validitas Internal dan Eksternal

Validitas Internal

Sejauh mana hasil penelitian mencerminkan hubungan yang sebenarnya dalam sampel yang diteliti (bebas dari bias dan confounding).

Validitas Eksternal (Generalisability)

Sejauh mana hasil penelitian dapat digeneralisasikan ke populasi yang lebih luas atau konteks yang berbeda.

Trade-off yang sering terjadi: RCT dengan kriteria inklusi ketat memiliki validitas internal tinggi tetapi validitas eksternal terbatas. Studi berbasis registri nasional memiliki validitas eksternal tinggi tetapi rentan terhadap confounding.

Dalam konteks Obginsos, validitas eksternal sangat penting: rekomendasi kebijakan yang didasarkan pada studi di satu rumah sakit tipe A di kota besar belum tentu berlaku untuk puskesmas di daerah terpencil.

D

Pertanyaan Diskusi

Thread Dosen – Minggu 2

Pertanyaan 1:

Seorang peneliti ingin mengetahui apakah ibu yang mengikuti kelas ibu hamil memiliki luaran persalinan yang lebih baik (lebih sedikit komplikasi, lebih banyak persalinan normal) dibanding yang tidak mengikuti. Ia memiliki keterbatasan waktu (6 bulan) dan anggaran (Rp 50 juta). Desain penelitian apa yang paling tepat ia gunakan? Jelaskan alasan pemilihan desain tersebut, termasuk kelebihan dan keterbatasannya dibanding desain alternatif yang mungkin digunakan.

Pertanyaan 2:

Anda menemukan sebuah artikel jurnal yang menyimpulkan bahwa "ibu yang tinggal di daerah dengan cakupan ANC tinggi memiliki AKI lebih rendah" berdasarkan data agregat 34 provinsi di Indonesia. Apakah Anda dapat menyimpulkan bahwa meningkatkan ANC individual akan menurunkan risiko kematian pada ibu tertentu? Jelaskan konsep yang relevan dan implikasinya untuk interpretasi data surveilans nasional.

E

Rangkuman

1

Hierarki bukti ilmiah menentukan kekuatan kesimpulan penelitian; RCT dan systematic review berada di puncak untuk pertanyaan tentang efektivitas intervensi

2

Penelitian deskriptif (case report, studi ekologis, cross-sectional) menjawab pertanyaan "siapa, apa, di mana, kapan" dan berguna untuk pembangkitan hipotesis serta estimasi prevalensi

3

Studi kohort mengikuti kelompok dari paparan ke outcome; studi kasus-kontrol memulai dari outcome lalu menelusuri paparan — keduanya analitik observasional dengan kekuatan dan keterbatasan masing-masing

4

RCT adalah standar emas untuk efektivitas intervensi karena randomisasi mengontrol confounding; namun memiliki keterbatasan etis, logistik, dan validitas eksternal dalam penelitian sistem kesehatan

5

Pemilihan desain harus mengikuti pertanyaan penelitian, bukan kebiasaan atau kemudahan

F

Referensi

1. Rothman KJ, Greenland S, Lash TL. Modern Epidemiology. 3rd ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2008.

URL: https://www.lww.com/Product/9781451190052

2. Sackett DL, Straus SE, Richardson WS, Rosenberg W, Haynes RB. Evidence-Based Medicine: How to Practice and Teach EBM. 2nd ed. Edinburgh: Churchill Livingstone; 2000.

3. Schulz KF, Altman DG, Moher D, CONSORT Group. CONSORT 2010 Statement: Updated Guidelines for Reporting Parallel Group Randomised Trials. BMJ. 2010;340:c332.

4. von Elm E, Altman DG, Egger M, et al. The Strengthening the Reporting of Observational Studies in Epidemiology (STROBE) Statement. Lancet. 2007;370(9596):1453-1457.

5. Guyatt GH, Oxman AD, Vist GE, et al. GRADE: an emerging consensus on rating quality of evidence and strength of recommendations. BMJ. 2008;336:924.

6. Victora CG, Habicht JP, Bryce J. Evidence-based public health: moving beyond randomized trials. American Journal of Public Health. 2004;94(3):400-405.

DOI: 10.2105/AJPH.94.3.400

7. WHO. WHO Statement on Caesarean Section Rates. Geneva: WHO; 2015.

URL: who.int/publications/i/item/WHO-RHR-15.02

8. Hemingway H, Croft P, Perel P, et al. Prognosis research strategy (PROGRESS) 1: A framework for researching clinical outcomes. BMJ. 2013;346:e5595.

DOI: 10.1136/bmj.e5595

9. Bonell C, Jamal F, Melendez-Torres GJ, Cummins S. 'Dark logic': theorising the harmful consequences of public health interventions. J Epidemiol Community Health. 2015;69(1):95-98.

DOI: 10.1136/jech-2014-204671

10. Kementerian Kesehatan RI / Badan Litbang Kesehatan. Pedoman Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Jakarta: Kemenkes RI; 2021.

URL: litbang.kemkes.go.id

Tersebut file modul, tersebut dibawah nantinya akan dibikin file tersendiri.

Tugas Personal – Minggu 2

Mata Kuliah: Epidemiologi Klinik & Biostatistik Lanjut

Materi: Modul 1 (Konsep Dasar Epidemiologi) & Modul 2 (Desain Penelitian)

Identitas Tugas

Jenis Tugas Tugas Personal – Analisis Naskah Kasus
Minggu Minggu ke-2
Bobot Nilai 10% dari nilai akhir mata kuliah
Batas Pengumpulan Akhir Minggu ke-2 (7 hari sejak tugas dibuka)
Format Pengumpulan Dokumen Word / PDF, diunggah di LMS
Panjang Jawaban 800–1.200 kata (tidak termasuk referensi)

Petunjuk Pengerjaan:

  1. Baca seluruh naskah kasus di bawah ini dengan cermat sebelum menjawab
  2. Jawab semua pertanyaan secara berurutan
  3. Setiap jawaban harus didukung argumen ilmiah — hindari jawaban opini tanpa dasar konseptual
  4. Cantumkan minimal 3 referensi relevan (format Vancouver) di bagian akhir
  5. Tugas dikerjakan secara mandiri; plagiasi antar mahasiswa akan mendiskualifikasi nilai

NASKAH KASUS

"Misteri Kematian Ibu di Kabupaten Waimarang"

Dr. Ratna, seorang SpOG yang baru ditugaskan sebagai Kepala Seksi KIA di Dinas Kesehatan Kabupaten Waimarang, Nusa Tenggara Timur, menghadapi situasi yang membingungkan. Data rutinnya menunjukkan bahwa Angka Kematian Ibu (AKI) di Kabupaten Waimarang mencapai 412 per 100.000 kelahiran hidup — hampir dua kali lipat rata-rata provinsi (220 per 100.000) dan empat kali lipat target nasional (106 per 100.000 berdasarkan RPJMN 2020–2024).

Yang lebih mengejutkan: cakupan ANC di Kabupaten Waimarang termasuk tertinggi di provinsi, mencapai 91%, jauh di atas rata-rata provinsi sebesar 74%. Secara logika sederhana, cakupan ANC tinggi seharusnya berkorelasi dengan AKI yang rendah. Tetapi di Waimarang, keduanya sama-sama tinggi.

Dr. Ratna mulai mengumpulkan informasi tambahan:

  • Dari 18 kematian ibu yang tercatat tahun lalu, 14 terjadi di rumah atau dalam perjalanan menuju fasilitas kesehatan
  • 12 dari 18 kematian (67%) terjadi pada ibu yang memiliki kartu ANC lengkap (≥4 kunjungan)
  • Penyebab kematian yang tercatat: perdarahan postpartum (9 kasus), eklamsia (5 kasus), sepsis (3 kasus), dan emboli (1 kasus)
  • Kabupaten Waimarang memiliki 1 RSUD tipe C dan 12 Puskesmas, tetapi hanya 3 Puskesmas yang memiliki fasilitas persalinan 24 jam (Puskesmas PONED)
  • Mayoritas wilayah adalah pegunungan dengan waktu tempuh rata-rata ke RSUD 3–5 jam
  • Dari wawancara cepat dengan 10 bidan desa, Dr. Ratna menemukan bahwa sebagian besar ibu hamil masih memilih melahirkan di rumah dengan didampingi dukun bayi karena "sudah turun-temurun" dan "percaya dukun lebih berpengalaman"

Dr. Ratna ingin melakukan penelitian sistematis untuk memahami mengapa AKI tinggi meskipun cakupan ANC baik, sebelum ia merancang intervensi.

1 Analisis Epidemiologis Awal (Bobot 25%)

Berdasarkan data yang ditemukan Dr. Ratna, lakukan analisis epidemiologis awal menggunakan kerangka Triad Epidemiologi (host, agent, environment). Identifikasi minimal 2 faktor pada masing-masing komponen triad yang berkontribusi terhadap tingginya AKI di Kabupaten Waimarang. Jelaskan mekanisme bagaimana setiap faktor berkontribusi terhadap kematian ibu.

2 Paradoks ANC dan AKI (Bobot 25%)

Data menunjukkan bahwa 67% ibu yang meninggal memiliki kartu ANC lengkap. Jelaskan secara epidemiologis mengapa fenomena ini bisa terjadi. Dalam jawaban Anda, gunakan konsep yang relevan dari epidemiologi sosial (termasuk Social Determinants of Health dan/atau Three Delays Model) untuk menjelaskan keterbatasan cakupan ANC sebagai indikator tunggal kualitas sistem KIA.

3 Pemilihan Desain Penelitian (Bobot 30%)

Dr. Ratna ingin melakukan penelitian untuk menjawab pertanyaan berikut:

"Faktor-faktor apa saja yang membedakan ibu hamil yang meninggal dengan ibu hamil yang selamat dari komplikasi obstetri di Kabupaten Waimarang?"
  1. Desain penelitian apa yang paling tepat untuk menjawab pertanyaan tersebut? Jelaskan alasan ilmiah pemilihan desain tersebut.
  2. Siapakah yang menjadi kasus dan siapakah yang menjadi kontrol dalam penelitian ini? Uraikan kriteria inklusi dan eksklusi yang tepat untuk masing-masing kelompok.
  3. Sebutkan 2 keterbatasan utama desain yang Anda pilih dalam konteks penelitian ini, dan jelaskan bagaimana keterbatasan tersebut dapat diminimalkan.

4 Refleksi Kritis (Bobot 20%)

Setelah menganalisis kasus Waimarang, Dr. Ratna berdebat dengan rekan sejawatnya. Rekannya berargumen: "Tidak perlu penelitian rumit. Solusinya sederhana: tingkatkan jumlah bidan desa dan tambah ambulans."

Dengan menggunakan pemahaman Anda tentang perbedaan epidemiologi klinik dan epidemiologi sosial, serta hierarki bukti ilmiah, tuliskan argumentasi ilmiah yang menjelaskan mengapa pendekatan berbasis bukti (penelitian sistematis) lebih tepat dibandingkan intervensi langsung tanpa analisis mendalam. Sertakan juga risiko apa yang dapat terjadi jika kebijakan diambil tanpa dasar epidemiologis yang kuat.

Rubrik Penilaian

Komponen Indikator Penilaian Bobot
Ketepatan Konsep Penggunaan konsep epidemiologi yang akurat dan relevan 30%
Kedalaman Analisis Kemampuan mengintegrasikan data kasus dengan teori 30%
Struktur Argumen Logika, koherensi, dan sistematika jawaban 20%
Referensi Relevansi dan format sitasi yang benar (min. 3 referensi) 10%
Kesesuaian Format Panjang jawaban, format file, ketepatan pengumpulan 10%

Panduan Referensi Minimal

Peserta didik disarankan merujuk pada:

  1. Rothman KJ, Greenland S, Lash TL. Modern Epidemiology. 3rd ed. 2008.
  2. Thaddeus S, Maine D. Too far to walk: maternal mortality in context. Soc Sci Med. 1994;38(8):1091-1110.
  3. WHO. Trends in Maternal Mortality 2000–2020. Geneva: WHO; 2023.
  4. Marmot M. The Status Syndrome. New York: Times Books; 2004.
  5. Kemenkes RI. Profil Kesehatan Indonesia 2022. Jakarta: Kemenkes; 2023.

(Peserta didik bebas menambahkan referensi lain yang relevan)

Malang, Maret 2026

Penyusun