Buku ini membahas tumor jinak ginekologi dan kelainan struktural uterus yang umum dijumpai pada usia reproduksi maupun perimenopause. Kompetensi inti mencakup diagnosis, tata laksana konservatif maupun operatif, serta pertimbangan preservasi fertilitas bagi pasien yang masih merencanakan kehamilan.
| No. | Kondisi | ICD-10 | Catatan Klinis |
|---|---|---|---|
| 47 | Mioma uteri tanpa penyulit | D25.9 | Tumor jinak uterus tanpa komplikasi. |
| 48 | Adenomiosis tanpa penyulit infertilitas | N80.0 | Adenomiosis ringan, tanpa infertilitas. |
| 49 | Polip endometrium | N84.0 | Polip jinak endometrium. |
| 50 | Hiperplasia endometrium tanpa infertilitas | N85.0 | Hiperplasia tanpa infertilitas. |
| 51 | Endometritis kronik tanpa infertilitas | N71.1 | Peradangan endometrium kronik. |
| 52 | Tumor jinak ovarium tanpa infertilitas | D27 | Tumor ovarium jinak, tidak terkait infertilitas. |
| 53 | Kista ovarium terpuntir | N83.5 | Komplikasi akut kista ovarium, kegawatdaruratan ginekologi. |
Mioma uteri ditatalaksana berdasarkan ukuran, lokasi, gejala (perdarahan abnormal, nyeri, gejala penekanan), dan rencana fertilitas pasien — mulai dari observasi, terapi medikamentosa, hingga miomektomi atau histerektomi. Adenomiosis dikelola dengan pendekatan serupa, dengan penekanan pada tata laksana nyeri dan perdarahan abnormal yang menyertainya.
Polip endometrium, hiperplasia endometrium, dan endometritis kronik memerlukan evaluasi histopatologi untuk menyingkirkan keganasan atau lesi prakanker, terutama pada hiperplasia dengan atipia. Kompetensi mencakup indikasi biopsi endometrium atau histeroskopi diagnostik, dan penentuan tata laksana medikamentosa versus operatif.
Tumor jinak ovarium dievaluasi melalui karakteristik pencitraan (ultrasonografi) dan penanda tumor untuk menyingkirkan keganasan sebelum menentukan tata laksana konservatif atau operatif. Kista ovarium terpuntir merupakan kegawatdaruratan ginekologi yang menuntut pengenalan cepat (nyeri akut abdomen bawah) dan tindakan operatif segera untuk menyelamatkan ovarium bila memungkinkan.
Pada seluruh kondisi dalam buku ini, Dokter Spesialis wajib mempertimbangkan status fertilitas dan rencana reproduksi pasien dalam menentukan pilihan tata laksana, memilih pendekatan yang paling konservatif secara onkologis dan struktural aman namun tetap mempertahankan potensi fertilitas ketika memungkinkan.
Keputusan tata laksana tumor jinak ginekologi — observasi, terapi medikamentosa, atau operasi — idealnya murni berbasis indikasi medis. Namun pada kenyataannya, akses terhadap tindakan operatif elektif sering ditentukan oleh antrean jaminan kesehatan, kemampuan membayar biaya tidak langsung (transportasi, kehilangan pendapatan selama rawat), dan tingkat literasi kesehatan yang memengaruhi pemahaman terhadap informed consent. Divisi Obginsos mengajarkan Anda memperhitungkan realitas ini tanpa mengorbankan standar keselamatan dan mutu tata laksana.
Materi ini membahas bagaimana menyusun rencana tata laksana yang realistis terhadap kondisi sosial-ekonomi pasien tanpa mengurangi kualitas keputusan klinis: menjelaskan pilihan tata laksana dengan bahasa yang dapat dipahami pasien dengan literasi kesehatan terbatas, memastikan informed consent benar-benar dipahami (bukan sekadar tanda tangan formulir), dan membantu pasien menavigasi proses administratif jaminan kesehatan untuk tindakan operatif yang diperlukan. Divisi Obginsos juga menekankan pentingnya mendengarkan preferensi pasien terhadap pilihan konservatif versus operatif, termasuk pertimbangan mereka atas dampak sosial-ekonomi dari waktu pemulihan pascaoperasi.
Seorang ibu dengan mioma uteri simtomatik direncanakan miomektomi elektif, namun berulang kali tidak hadir pada jadwal operasi yang ditawarkan. Penelusuran yang dibimbing Divisi Obginsos mengungkap bahwa ia adalah tulang punggung keluarga dan khawatir kehilangan pendapatan selama masa pemulihan tanpa ada yang menggantikan perannya mengasuh anak-anak. Solusi yang disusun bersama tim melibatkan penjadwalan operasi pada periode yang paling memungkinkan baginya dan rujukan ke layanan dukungan sosial rumah sakit untuk membantu masa pemulihan, alih-alih sekadar mencatatnya sebagai "pasien tidak patuh".