Buku ini membahas asuhan pada tiga fase yang berkesinambungan: persalinan, masa nifas, dan laktasi. Ketiganya menuntut kewaspadaan klinis yang berkelanjutan, karena sebagian besar kematian maternal terjadi pada periode intrapartum dan pascapersalinan dini.
| No. | Kondisi | ICD-10 | Catatan Klinis |
|---|---|---|---|
| 17 | Ruptur perineum derajat I–II | O70.0–O70.1 | Trauma jalan lahir ringan pada persalinan pervaginam. |
| 18 | Ruptur perineum derajat III–IV | O70.2–O70.3 | Trauma jalan lahir berat, risiko inkontinensia. |
| 20 | Persalinan macet (distosia) | O66.9 | Dibahas juga pada Buku 3 dari sisi kegawatdaruratan. |
| 21 | Persalinan preterm | O60 | Persalinan sebelum 37 minggu. |
| 22–23 | Ketuban pecah sebelum/pada kehamilan preterm | O42.9 | Risiko infeksi intrauterin dan prematuritas. |
| 38 | Nifas (masa pascapersalinan) | Z39.2 | Pemantauan ibu pada masa pascapersalinan. |
| 39 | Infeksi dan demam saat nifas | O85; O86.4 | Risiko sepsis maternal bila tidak ditangani cepat. |
| 40 | Masalah menyusui | O92.7 | Gangguan laktasi pada masa nifas. |
Kompetensi inti mencakup pemantauan kemajuan persalinan menggunakan partograf atau alat pemantau setara, pengenalan dini tanda distosia, pertolongan persalinan pervaginam yang aman, serta penatalaksanaan aktif kala tiga untuk mencegah perdarahan pascapersalinan. Manajemen nyeri persalinan dan dukungan psikologis kepada ibu bersalin menjadi bagian tidak terpisahkan dari kompetensi ini.
Ruptur perineum derajat I–II dapat ditangani dengan penjahitan standar, sementara derajat III–IV (melibatkan sfingter ani) menuntut teknik penjahitan lapis demi lapis yang lebih presisi untuk mencegah komplikasi inkontinensia jangka panjang, serta pemantauan pascatindakan yang lebih ketat. Kompetensi mengenali derajat ruptur secara akurat menjadi prasyarat penting sebelum menentukan teknik penjahitan yang sesuai.
Penanganan ancaman persalinan preterm mencakup penilaian faktor risiko, pertimbangan tokolisis, pemberian kortikosteroid untuk pematangan paru janin sesuai usia kehamilan, dan koordinasi dengan fasilitas neonatal yang memadai. Pada ketuban pecah dini, keseimbangan antara risiko infeksi intrauterin dan risiko prematuritas menjadi pertimbangan utama dalam menentukan waktu terminasi kehamilan.
Asuhan nifas terstruktur mencakup pemantauan involusi uterus, luka jahitan (perineum atau abdominal), tanda vital, dan kondisi psikologis ibu (termasuk skrining risiko depresi pascapersalinan). Demam pada masa nifas harus dievaluasi secara sistematis untuk menyingkirkan infeksi puerperium, endometritis, infeksi luka operasi, atau infeksi saluran kemih, mengingat potensinya berkembang cepat menjadi sepsis maternal apabila terlambat ditangani.
Kompetensi ini mencakup edukasi teknik menyusui yang benar, identifikasi dan tata laksana masalah laktasi umum (puting lecet, bendungan ASI, mastitis), serta dukungan bagi ibu dengan kondisi yang memerlukan pertimbangan khusus dalam menyusui (mis. ibu dengan HIV, ibu yang menjalani terapi obat tertentu).
Periode nifas sering dianggap "selesai" begitu ibu dan bayi dipulangkan dalam kondisi stabil. Namun bagi ibu pekerja informal tanpa cuti melahirkan yang dijamin, tanpa dukungan keluarga besar, atau tanpa akses konseling laktasi berkelanjutan, masa nifas adalah periode paling rentan secara sosial — bukan hanya klinis. Divisi Obginsos mengajarkan Anda melihat pemulangan pasien bukan sebagai akhir tanggung jawab, melainkan awal fase yang memerlukan jejaring dukungan.
Materi ini membahas bagaimana determinan sosial memengaruhi keluaran nifas: ibu buruh pabrik atau pekerja informal sering kembali bekerja jauh lebih cepat dari waktu pemulihan optimal karena tidak memiliki jaminan cuti melahirkan yang memadai, sehingga berisiko terhadap komplikasi nifas terlambat terdeteksi dan gangguan laktasi. Dukungan laktasi yang efektif memerlukan pemahaman terhadap kondisi rumah tangga ibu — ketersediaan waktu, dukungan pasangan/keluarga, dan tekanan ekonomi yang dapat mendorong penghentian dini ASI eksklusif. Divisi Obginsos mendorong keterlibatan konselor laktasi dan pekerja sosial sejak sebelum pemulangan bagi ibu dengan faktor risiko sosial teridentifikasi.
Seorang ibu pekerja pabrik garmen dipulangkan pascapersalinan normal hari kedua, dan merencanakan kembali bekerja dalam dua minggu karena tidak ada jaminan pendapatan selama cuti lebih lama. Sebelum pemulangan, tim yang dibimbing Divisi Obginsos melakukan konseling laktasi intensif yang disesuaikan dengan rencana kerjanya (teknik memerah dan menyimpan ASI), serta menghubungkannya dengan hak-hak pekerja terkait cuti melahirkan yang mungkin belum ia ketahui, alih-alih hanya memberikan edukasi laktasi standar yang mengasumsikan ibu memiliki waktu penuh di rumah.