Buku 3 dari 15 — Seri Buku Ajar Inti Kompetensi Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi (SpOG) · Spektrum Penyakit

Obstetri Patologis dan Kegawatdaruratan Maternal

Perpustakaan Digital ABBA · Dr.dr. H. Budi Siswanto, Sp.OG., Subsp.Obginsos., SH., S.Kom. · 2026

BAB I — PENDAHULUAN

Buku ini membahas kelompok kondisi obstetri patologis dan kegawatdaruratan maternal yang menuntut pengenalan cepat, pengambilan keputusan tepat waktu, dan tindakan penyelamatan jiwa. Kompetensi pada buku ini merupakan inti dari keahlian Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi yang membedakannya dari dokter umum, karena keterlambatan atau kesalahan penanganan pada kelompok kondisi ini berkontribusi besar terhadap mortalitas dan morbiditas maternal.

BAB II — RUANG LINGKUP KONDISI KLINIS

No.KondisiICD-10Catatan Klinis
3Keguguran (ancaman, inkomplet, berlangsung)O20.0 dkk.Komplikasi trimester awal pada usia reproduksi.
4Mola hidatidosa tanpa penyulitO01.9Penyakit trofoblas gestasional.
5Kehamilan ektopikO00.9Kehamilan abnormal dengan risiko perdarahan mengancam jiwa.
6Hiperemesis gravidarumO21.0–O21.1Mual-muntah berat pada awal kehamilan.
7Hipertensi dalam kehamilanO13Hipertensi gestasional, umumnya trimester 2–3.
8PreeklamsiaO14.9Hipertensi disertai proteinuria dalam kehamilan.
9Preeklamsia dengan gejala beratO14.1Risiko tinggi komplikasi maternal-fetal.
10EklamsiaO15.9Kejang pada preeklamsia; kegawatdaruratan obstetri.
11Kehamilan dengan riwayat seksio sesareaO34.2Risiko ruptur uteri; pemantauan ketat persalinan.
12Plasenta previa dan letak rendahO44.1Perdarahan antepartum trimester 2–3.
13Ruptur uteriO71.1Kegawatdaruratan obstetri risiko mortalitas tinggi.
14Atonia uteriO72.1Penyebab utama perdarahan pascapersalinan.
15Solusio plasentaO45.9Perdarahan antepartum, risiko fetal-maternal.
16Retensio plasentaO73.0–O73.1Penyebab perdarahan postpartum, perlu intervensi segera.
19Robekan serviksO71.3Trauma serviks saat persalinan pervaginam.
20Persalinan macet (distosia)O66.9Hambatan kemajuan persalinan, risiko intervensi operatif.
21Persalinan pretermO60Persalinan sebelum 37 minggu; morbiditas neonatal tinggi.
22Ketuban pecah sebelum persalinanO42.9Risiko infeksi intrauterin.
23Ketuban pecah pada kehamilan pretermO42.9; O60Komplikasi preterm; risiko infeksi dan prematuritas.
24Gawat janinO68.9Gangguan oksigenasi janin, indikasi tindakan segera.
25Janin kecil untuk masa kehamilan (IUGR)P05.1Restriksi pertumbuhan intrauterin.
26Hidrops fetalisP83.2Akumulasi cairan abnormal pada janin.
27Kematian janin intrauterinO36.4; P95Janin meninggal dalam kandungan.
28Kehamilan multipel tanpa komplikasiO30.9Kehamilan ganda; pemantauan intensif.

BAB III — PENDEKATAN TERHADAP PERDARAHAN OBSTETRI

Perdarahan merupakan penyebab kematian maternal yang dapat dicegah melalui pengenalan dini dan tata laksana sistematis. Dokter Spesialis wajib menguasai pendekatan berjenjang terhadap perdarahan antepartum (plasenta previa, solusio plasenta) dan perdarahan pascapersalinan (atonia uteri, retensio plasenta, robekan jalan lahir), termasuk resusitasi cairan, identifikasi sumber perdarahan secara sistematis, dan eskalasi ke tindakan operatif ketika tata laksana konservatif tidak berhasil.

BAB IV — SPEKTRUM HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN

Penguasaan spektrum hipertensi dalam kehamilan — dari hipertensi gestasional, preeklamsia, preeklamsia dengan gejala berat, hingga eklamsia — menuntut kemampuan penapisan tanda bahaya (proteinuria, gejala neurologis, gangguan fungsi organ), tata laksana farmakologis (antihipertensi dan magnesium sulfat untuk pencegahan/tata laksana kejang), serta penentuan waktu dan cara terminasi kehamilan yang tepat berdasarkan keseimbangan risiko maternal dan fetal.

BAB V — DISTOSIA DAN KOMPLIKASI PERSALINAN

Kompetensi ini mencakup pengenalan pola persalinan yang tidak progresif, evaluasi penyebab (faktor janin, jalan lahir, atau kekuatan his), dan pengambilan keputusan antara augmentasi persalinan, persalinan operatif pervaginam, atau seksio sesarea. Pada kehamilan dengan riwayat seksio sesarea sebelumnya, kewaspadaan terhadap tanda ruptur uteri menjadi kompetensi kritis yang membedakan penanganan optimal dari keterlambatan yang fatal.

BAB VI — KEGAWATDARURATAN JANIN

Pengenalan gawat janin melalui interpretasi kardiotokografi dan tanda klinis lain, penanganan janin kecil untuk masa kehamilan, serta pengambilan keputusan terhadap kondisi kehamilan multipel dan hidrops fetalis, menuntut koordinasi erat antara pertimbangan maternal dan fetal, dengan ambang rujukan yang jelas ke Dokter Subspesialis Kedokteran Fetomaternal untuk kasus yang melampaui kompleksitas spesialis umum.

BAB VII — KONTRIBUSI DIVISI OBGINSOS

A. Deskripsi

Mortalitas maternal akibat kegawatdaruratan obstetri di Indonesia sering dijelaskan melalui kerangka klasik "Tiga Terlambat": terlambat mengenali tanda bahaya, terlambat memutuskan mencari pertolongan, dan terlambat mencapai atau memperoleh penanganan di fasilitas kesehatan. Ketiga keterlambatan ini hampir selalu berakar pada faktor sosial-ekonomi, bukan semata kegagalan klinis. Sebagai calon Dokter Spesialis, penguasaan Anda atas tata laksana kegawatdaruratan tidak lengkap tanpa memahami rantai keterlambatan yang membawa pasien ke hadapan Anda.

B. Kerangka Tiga Terlambat dalam Kegawatdaruratan Maternal

Divisi Obginsos mengajarkan penerapan kerangka Tiga Terlambat sebagai alat analisis rutin pada setiap kasus kegawatdaruratan maternal yang ditangani: Terlambat Pertama (mengenali tanda bahaya) sering terjadi akibat rendahnya literasi kesehatan atau normalisasi gejala berbahaya sebagai "biasa terjadi pada kehamilan"; Terlambat Kedua (memutuskan mencari pertolongan) dipengaruhi oleh otoritas pengambilan keputusan dalam keluarga, biaya, dan kepercayaan terhadap fasilitas kesehatan; dan Terlambat Ketiga (mencapai/memperoleh penanganan) dipengaruhi oleh jarak geografis, ketersediaan transportasi, dan kesiapan fasilitas rujukan. Setiap kasus kegawatdaruratan yang ditangani peserta didik dianjurkan dianalisis melalui ketiga lensa ini sebagai bagian dari refleksi klinis, tidak hanya dari sisi tata laksana medis-teknisnya.

C. Ilustrasi Kasus Lapangan

Seorang ibu dari desa terpencil mengalami perdarahan pascapersalinan setelah ditolong dukun beranak, dan baru tiba di RS Pendidikan lebih dari 6 jam setelah kejadian dalam kondisi syok hipovolemik berat. Diskusi kasus yang dibimbing Divisi Obginsos tidak berhenti pada keberhasilan resusitasi dan tindakan operatif penyelamatan, tetapi juga menelusuri: mengapa keluarga memilih dukun beranak (jarak Puskesmas 2 jam, biaya ambulans tidak terjangkau), dan tanda bahaya apa yang seharusnya memicu rujukan lebih dini. Rekomendasi yang dihasilkan mencakup advokasi ke Dinas Kesehatan setempat untuk penguatan sistem rujukan desa, bukan semata evaluasi teknis penanganan di rumah sakit.

BAB VIII — RINGKASAN KOMPETENSI YANG HARUS DICAPAI