Buku ini membahas kondisi yang umum dijumpai pada wanita perimenopause dan pascamenopause: gejala menopause, gangguan fungsi kandung kemih, dan prolaps organ panggul derajat ringan. Kasus dengan kompleksitas lebih tinggi menjadi ranah Dokter Subspesialis Uroginekologi Rekonstruksi.
| No. | Kondisi | ICD-10 | Catatan Klinis |
|---|---|---|---|
| 60 | Menopause sederhana (peri/post) | N95.1 | Gejala menopause ringan. |
| 61 | Kandung kemih hiperaktif | N39.4; N32.8 | Gejala frequency, urgency, nocturia. |
| 62 | Retensio urin akut pascapersalinan | R33 | Retensi urine segera pascapersalinan. |
| 63 | Prolaps organ panggul derajat I | N81.2 | Prolaps ringan organ panggul. |
| 64 | Himen imperforata | Q52.3 | Kelainan kongenital himen. |
Gejala menopause sederhana (hot flashes, gangguan tidur, perubahan mood, keluhan urogenital) ditatalaksana melalui edukasi, modifikasi gaya hidup, dan pertimbangan terapi hormon pengganti pada pasien yang sesuai indikasi dan tanpa kontraindikasi, dengan penjelasan risiko-manfaat yang transparan kepada pasien.
Kandung kemih hiperaktif dievaluasi melalui anamnesis pola berkemih, penyingkiran infeksi saluran kemih dan penyebab sekunder lain, serta tata laksana bertahap mulai dari modifikasi perilaku dan latihan otot dasar panggul hingga terapi farmakologis. Retensio urin akut pascapersalinan memerlukan pengenalan cepat dan kateterisasi untuk mencegah kerusakan permanen fungsi kandung kemih.
Prolaps organ panggul derajat I ditatalaksana secara konservatif melalui latihan otot dasar panggul dan penggunaan pesarium bagi pasien yang sesuai, dengan pemantauan berkala. Pengenalan derajat prolaps yang lebih berat atau kegagalan tata laksana konservatif menjadi indikasi rujukan ke Dokter Subspesialis Uroginekologi Rekonstruksi untuk pertimbangan tata laksana operatif.
Meskipun tergolong kelainan kongenital yang umumnya terdeteksi pada masa remaja, penguasaan pengenalan dan tata laksana bedah sederhana himen imperforata tetap menjadi bagian kompetensi spesialis umum, mengingat potensi komplikasi hematokolpos apabila terlambat ditangani.
Perempuan lanjut usia dengan keluhan menopause, gangguan kandung kemih, atau prolaps ringan sering menjadi kelompok pasien yang paling terabaikan dalam sistem kesehatan — bukan karena kondisinya tidak penting, melainkan karena dianggap "wajar" seiring usia dan kurang menjadi prioritas dibanding kondisi yang dianggap lebih mengancam jiwa. Divisi Obginsos mengajarkan Anda bahwa kualitas hidup perempuan lanjut usia adalah tujuan yang sah dan layak diperjuangkan, bukan sekadar keluhan sekunder.
Materi ini membahas dampak sosial gangguan kandung kemih dan prolaps terhadap kemandirian dan partisipasi sosial perempuan lanjut usia (isolasi sosial akibat rasa malu inkontinensia, keterbatasan mobilitas), beban perawatan yang sering ditanggung oleh anggota keluarga (biasanya perempuan lain dalam keluarga) tanpa dukungan yang memadai, dan pentingnya solusi tata laksana yang mempertimbangkan kemampuan pasien mengakses kontrol berkala (mis. penggantian pesarium) apabila tinggal jauh dari fasilitas kesehatan.
Seorang nenek berusia 68 tahun dibawa anaknya dengan keluhan prolaps organ panggul yang sudah dibiarkan bertahun-tahun karena malu bercerita dan tidak ada yang mengantar ke fasilitas kesehatan. Pendekatan yang dibimbing Divisi Obginsos tidak hanya menawarkan pesarium sebagai solusi konservatif, tetapi juga mendiskusikan bersama keluarga jadwal kontrol yang realistis dengan kondisi mobilitas dan dukungan pengasuhan yang tersedia, serta memvalidasi bahwa keluhan yang telah dipendam bertahun-tahun ini layak dan penting untuk ditangani.