Buku ini membahas kelompok kondisi ginekologi umum dan infeksi saluran reproduksi yang menjadi keluhan paling sering dijumpai pada praktik rawat jalan ginekologi. Penguasaan kelompok ini menuntut kemampuan diagnosis banding yang cermat, mengingat gejala pada berbagai kondisi ini seringkali tumpang tindih.
| No. | Kondisi | ICD-10 | Catatan Klinis |
|---|---|---|---|
| 41 | Kondiloma akuminatum | A63.0 | Infeksi HPV anogenital. |
| 42 | Vaginitis | N76.0 | Inflamasi vagina, berbagai etiologi. |
| 43 | Servisitis | N72 | Inflamasi serviks. |
| 44 | Penyakit radang panggul tanpa komplikasi | N73.9 | Infeksi pelvis; berpotensi nyeri panggul kronis. |
| 45 | Kista dan abses kelenjar Bartholin | N75.0–N75.1 | Infeksi kelenjar Bartholin. |
| 46 | Infeksi daerah operasi | T81.4 | Infeksi pasca operasi ginekologi/obstetri. |
| 71 | Infeksi menular seksual | A50–A64 | Kelompok infeksi dengan mode transmisi predominan seksual. |
Keluhan duh vagina abnormal memerlukan pendekatan sistematis: anamnesis karakteristik duh (warna, konsistensi, bau), pemeriksaan spekulum, dan pemeriksaan penunjang untuk membedakan vaginitis bakterial, kandidiasis, trikomoniasis, dan servisitis akibat infeksi menular seksual. Diagnosis banding yang akurat menentukan pilihan terapi dan kebutuhan penapisan serta tata laksana pasangan.
Penyakit radang panggul memerlukan pengenalan dini untuk mencegah komplikasi jangka panjang berupa nyeri panggul kronis dan infertilitas akibat kerusakan tuba. Kompetensi mencakup penegakan diagnosis klinis, pemilihan regimen antibiotik empiris yang tepat, penentuan kebutuhan rawat inap berdasarkan derajat keparahan, dan edukasi pasangan.
Kista dan abses Bartholin ditangani sesuai derajat keparahan, mulai dari insisi dan drainase hingga marsupialisasi untuk kasus berulang. Infeksi daerah operasi pasca prosedur obstetri atau ginekologi menuntut kewaspadaan terhadap tanda infeksi luka, tata laksana sesuai prinsip pengendalian infeksi, dan evaluasi faktor risiko yang dapat dicegah pada tindakan berikutnya.
Kompetensi ini mencakup penapisan, diagnosis, dan tata laksana infeksi menular seksual sesuai pedoman nasional, termasuk edukasi pencegahan, notifikasi dan tata laksana pasangan, serta kepekaan terhadap aspek kerahasiaan dan stigma yang menyertai kondisi ini. Kondiloma akuminatum akibat infeksi HPV memerlukan konseling tambahan mengenai kaitannya dengan risiko lesi prakanker serviks (lihat Buku 10).
Infeksi menular seksual dan infeksi saluran reproduksi lain membawa beban ganda: beban klinis dan beban stigma. Stigma inilah yang sering membuat pasien menunda pemeriksaan, menyembunyikan riwayat, atau menghindari tata laksana pasangan — bukan karena kurangnya informasi medis, melainkan karena rasa takut dihakimi. Divisi Obginsos mengajarkan Anda menangani kelompok kondisi ini dengan kompetensi klinis sekaligus kepekaan terhadap dimensi stigma dan kerahasiaan yang menyertainya.
Materi ini membahas praktik komunikasi yang tidak menghakimi saat menggali riwayat seksual dan risiko infeksi menular seksual, prinsip kerahasiaan yang ketat (termasuk dari anggota keluarga yang menemani pasien), serta tantangan notifikasi dan tata laksana pasangan pada konteks budaya yang menstigma perempuan lebih berat dibanding laki-laki untuk kondisi yang sama. Divisi Obginsos juga menekankan kepekaan terhadap kelompok berisiko tinggi yang sering luput dari akses layanan reguler, seperti pekerja seks komersial, yang memerlukan pendekatan layanan yang ramah dan tidak menghakimi agar mau mengakses pemeriksaan dan pengobatan secara berkelanjutan.
Seorang pasien datang dengan keluhan duh vagina berulang namun enggan menjelaskan riwayat lengkap karena suaminya menunggu di luar ruang periksa. Pendekatan yang diajarkan Divisi Obginsos memastikan ruang aman untuk anamnesis privat tanpa kehadiran pendamping saat membahas riwayat seksual, menyampaikan hasil dan rencana tata laksana dengan bahasa yang tidak memicu konflik rumah tangga, serta menawarkan tata laksana pasangan melalui jalur yang menjaga kerahasiaan pasien sepenuhnya.