Buku ini membahas gangguan haid, kondisi endokrinologi reproduksi dasar, dan tata laksana awal infertilitas pada pasangan usia muda. Kasus dengan kompleksitas lebih tinggi (infertilitas berkepanjangan, PCOS dengan komplikasi metabolik berat) berada di luar cakupan spesialis umum dan menjadi ranah Dokter Subspesialis Fertilitas dan Endokrinologi Reproduksi.
| No. | Kondisi | ICD-10 | Catatan Klinis |
|---|---|---|---|
| 54 | Endometriosis tanpa infertilitas | N80.9 | Endometriosis tanpa masalah infertilitas. |
| 55 | Dismenore (primer/sekunder) tanpa infertilitas | N94.4–N94.5 | Nyeri haid, perlu dibedakan primer/sekunder. |
| 56 | Perdarahan uterus abnormal sederhana | N93.9 | Perdarahan uterus fungsional sederhana. |
| 57 | Amenore sekunder (WHO kelas 2) | N91.1 | Amenore akibat gangguan hipotalamus–hipofisis. |
| 58 | Sindrom ovarium polikistik sederhana | E28.2 | PCOS dengan gejala ringan. |
| 59 | Infertilitas usia <35 tahun, durasi <36 bulan | N97.9 | Infertilitas usia muda, evaluasi awal. |
| 72 | Sindrom pramenstruasi, nyeri haid dan sanggama | N94.0–N94.6 | Gejala siklik fase luteal yang mengganggu fungsi harian. |
Dismenore primer ditangani dengan tata laksana simtomatik dan edukasi, sementara dismenore sekunder menuntut evaluasi etiologi (endometriosis, adenomiosis) sebelum menetapkan tata laksana definitif. Sindrom pramenstruasi dan nyeri sanggama dievaluasi dengan pendekatan biopsikososial, mempertimbangkan faktor hormonal maupun psikologis yang saling berkaitan.
Perdarahan uterus abnormal sederhana dievaluasi menggunakan kerangka klasifikasi etiologi terstruktur, menyingkirkan penyebab struktural (dibahas pada Buku 7) sebelum menetapkan diagnosis perdarahan uterus disfungsional. Amenore sekunder dievaluasi secara bertahap mulai dari anamnesis siklus, uji kehamilan, hingga penilaian aksis hipotalamus-hipofisis-ovarium untuk menentukan level gangguan.
PCOS sederhana ditatalaksana melalui modifikasi gaya hidup, tata laksana simtomatik gangguan haid dan hirsutisme, serta edukasi risiko metabolik jangka panjang. Kasus dengan komplikasi metabolik signifikan atau resistensi terhadap tata laksana awal dirujuk ke Dokter Subspesialis Fertilitas dan Endokrinologi Reproduksi.
Untuk pasangan usia reproduksi muda dengan durasi infertilitas kurang dari 36 bulan, Dokter Spesialis melakukan evaluasi awal meliputi anamnesis siklus haid dan riwayat reproduksi kedua pasangan, pemeriksaan fisik, dan penapisan dasar (analisis semen, penilaian ovulasi, evaluasi kepatenan tuba). Kompetensi kritis pada tahap ini adalah mengenali kapan evaluasi dan tata laksana lanjutan (termasuk teknologi reproduksi berbantu) memerlukan rujukan ke Dokter Subspesialis.
Infertilitas membawa beban psikososial yang di banyak masyarakat Indonesia jauh lebih berat dipikul oleh perempuan dibanding laki-laki — stigma "mandul", tekanan keluarga besar, hingga risiko perceraian. Sementara itu, tata laksana lanjutan infertilitas (termasuk teknologi reproduksi berbantu) memiliki biaya yang tidak terjangkau oleh sebagian besar masyarakat dan umumnya tidak ditanggung jaminan kesehatan nasional. Divisi Obginsos mengajarkan Anda menyeimbangkan empati terhadap beban psikososial ini dengan kejujuran mengenai keterbatasan akses yang nyata dihadapi pasien.
Materi ini membahas pendekatan konseling infertilitas yang mengakui beban psikososial pasien tanpa memperburuknya melalui bahasa medis yang tidak sensitif ("gagal hamil", "rahim tidak subur"), pentingnya melibatkan pasangan (bukan hanya pasien perempuan) dalam evaluasi dan pengambilan keputusan, dan kejujuran mengenai pilihan tata laksana yang realistis secara finansial bagi pasien, termasuk opsi non-teknologi tinggi yang tetap berbasis bukti sebelum merujuk ke tata laksana lanjutan yang lebih mahal di tingkat Subspesialis Fertilitas dan Endokrinologi Reproduksi.
Seorang pasangan muda datang dengan keluhan belum memiliki anak setelah 18 bulan menikah, dengan tekanan kuat dari keluarga besar suami. Pendekatan yang dibimbing Divisi Obginsos memastikan evaluasi melibatkan kedua pasangan secara setara (menyingkirkan asumsi bahwa masalah selalu pada pihak perempuan), memberikan edukasi bahwa 18 bulan masih dalam rentang wajar untuk sebagian pasangan, dan membuka ruang bagi pasien menceritakan tekanan sosial yang dialaminya — termasuk menawarkan rujukan dukungan psikologis apabila diperlukan, alih-alih hanya memberikan resep pemeriksaan penunjang.