Buku ini membahas peran Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi dalam deteksi dini keganasan ginekologi — bukan tata laksana definitif kanker, yang menjadi ranah Dokter Subspesialis Onkologi Ginekologi. Kompetensi inti pada tingkat spesialis adalah skrining, pengenalan tanda bahaya, dan rujukan tepat waktu.
| No. | Kondisi | ICD-10 | Catatan Klinis |
|---|---|---|---|
| 65 | Lesi prakanker serviks | N87.0–N87.2 | Lesi pra-invasif serviks; sasaran program skrining wanita reproduktif. |
| 66 | Penyakit trofoblas ganas risiko rendah | C58 | Neoplasia trofoblas gestasional (GTN) risiko rendah. |
Dokter Spesialis berperan dalam pelaksanaan dan interpretasi program skrining kanker serviks (sitologi/Pap smear, tes HPV, atau inspeksi visual dengan asam asetat sesuai ketersediaan program nasional), penentuan interval skrining berdasarkan usia dan faktor risiko, serta tata laksana lesi prakanker derajat rendah hingga sedang melalui prosedur ablatif atau eksisional sesuai kompetensi spesialis. Lesi dengan kecurigaan keganasan invasif dirujuk segera ke Dokter Subspesialis Onkologi Ginekologi.
Penyakit trofoblas ganas risiko rendah memerlukan pemantauan kadar hCG serial pasca-evakuasi mola hidatidosa (lihat Buku 3), pengenalan tanda persistensi atau progresi penyakit, dan tata laksana kemoterapi lini pertama untuk kasus risiko rendah sesuai kompetensi spesialis, dengan ambang rujukan yang jelas ke Dokter Subspesialis Onkologi Ginekologi untuk kasus risiko tinggi atau resisten terapi.
Kompetensi paling kritis dalam buku ini bukan tata laksana definitif, melainkan pengenalan tanda bahaya keganasan (perdarahan pascamenopause, massa panggul dengan karakteristik mencurigakan, penurunan berat badan tidak dapat dijelaskan) dan kecepatan proses rujukan ke Dokter Subspesialis Onkologi Ginekologi tanpa menunda waktu tunggu yang tidak perlu, mengingat prognosis keganasan ginekologi sangat bergantung pada kecepatan diagnosis.
Kanker serviks adalah salah satu keganasan yang paling dapat dicegah melalui skrining, namun tetap menjadi penyebab kematian kanker yang signifikan pada perempuan Indonesia — sebuah paradoks yang hampir seluruhnya berakar pada kesenjangan akses skrining, bukan keterbatasan ilmu kedokteran. Perempuan dari kelompok sosial-ekonomi rendah, daerah terpencil, dan dengan literasi kesehatan rendah secara konsisten terlambat terdeteksi hingga stadium lanjut. Divisi Obginsos mengajarkan Anda bahwa peran spesialis dalam deteksi dini bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan tanggung jawab menjangkau kelompok yang paling berisiko luput dari program skrining.
Materi ini membahas hambatan struktural terhadap partisipasi skrining kanker serviks: keterbatasan fasilitas skrining di layanan primer daerah terpencil, rendahnya kesadaran akan pentingnya skrining rutin pada perempuan tanpa gejala, stigma budaya terhadap pemeriksaan panggul, dan keterbatasan tindak lanjut bagi hasil skrining abnormal akibat jarak ke fasilitas rujukan. Divisi Obginsos mendorong peserta didik berperan aktif dalam program skrining berbasis komunitas (kerja sama dengan Puskesmas dan kader kesehatan), bukan menunggu pasien datang secara pasif ke poliklinik rumah sakit.
Seorang perempuan berusia 45 tahun datang dengan perdarahan pascamenopause dan didiagnosis lesi prakanker serviks derajat lanjut, mengaku belum pernah menjalani pemeriksaan Pap smear sepanjang hidupnya karena tidak ada layanan skrining di desanya dan merasa malu jika harus pergi jauh untuk pemeriksaan tersebut. Selain tata laksana lesi yang ditemukan, tim yang dibimbing Divisi Obginsos menindaklanjuti dengan advokasi ke Puskesmas asal pasien untuk mengaktifkan program skrining berkala di wilayah tersebut, agar kasus serupa tidak terlambat terdeteksi pada perempuan lain di komunitas yang sama.